BATU - Upaya meningkatkan daya tarik Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Batu membutuhkan dukungan fasilitas yang lebih memadai. Untuk satu titik TBM, kebutuhan anggaran pengembangan diproyeksikan mencapai Rp50-100 juta.
Proyeksi tersebut mencakup peningkatan jaringan internet dan penambahan fasilitas pendukung seperti kafetaria. Kedua komponen ini dinilai penting untuk memperluas fungsi TBM sebagai ruang literasi publik.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu, Abdul Rais, mengatakan kebutuhan anggaran per titik relatif masih terjangkau. “Perkiraan sekitar Rp50 juta sampai Rp100 juta untuk satu TBM,” ujarnya.
Namun, rencana tersebut belum masuk dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) 2026. Pengajuan baru akan dilakukan jika dinilai prioritas melalui pembahasan lanjutan. “Jika memang dianggap mendesak, bisa diajukan lewat perubahan anggaran,” katanya.
Saat ini terdapat 23 TBM yang tersebar di Kota Batu. Dengan jumlah itu, pengembangan tidak bisa dilakukan secara serentak. Pemerintah akan memetakan kebutuhan dan menentukan skala prioritas. Langkah awal dilakukan melalui proyek percontohan.
Satu TBM direncanakan menjadi lokasi uji coba, yakni TBM Hutan Kota Bondas. Lokasi ini dipilih karena pengelolaannya langsung di bawah dinas. Selain itu, mempertimbangkan kondisi bangunan yang sudah direhabilitasi sebelumnya.
BACA JUGA 195 Warga Masuk Verifikasi Bansos
Penguatan fasilitas difokuskan pada peningkatan kualitas layanan. Akses internet yang lebih cepat diharapkan mendukung aktivitas literasi digital. Sementara kafetaria dirancang untuk menarik kunjungan masyarakat.
“Fasilitas ini diharapkan bisa meningkatkan minat baca sekaligus kunjungan,” ujar Rais.
Jika uji coba berhasil, model pengembangan serupa akan diterapkan di TBM lain. Dengan demikian, fungsi TBM tidak hanya sebagai tempat membaca.
BACA JUGA Kuota Vaksin PMK dari Pemerintah Pusat Dipangkas
Ke depan, TBM diharapkan berkembang menjadi ruang interaksi sosial, pusat kegiatan edukatif, sekaligus penggerak budaya literasi masyarakat. Namun, tanpa dukungan anggaran yang konsisten, transformasi tersebut berpotensi berjalan lambat.
Editor : Fajar Andre Setiawan