Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fenomena “Doom Thinking” pada Siswa, Terbiasa Memikirkan Kemungkinan Terburuk

C
Penulis: Choirun Nisa❯
Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir keras (Sumber: KabarPrima)
Ilustrasi seseorang yang sedang berpikir keras (Sumber: KabarPrima)

Advertisement

BATU, RADAR BATU – Pernah melihat siswa yang langsung membayangkan hal buruk sebelum sesuatu benar-benar terjadi? Misalnya merasa pasti gagal sebelum ujian dimulai, takut dimarahi guru sebelum presentasi, atau menganggap masa depannya akan buruk hanya karena satu kesalahan kecil. Fenomena ini kini sering disebut sebagai doom thinking, yaitu kebiasaan memikirkan kemungkinan terburuk secara berlebihan.

Siswa Terbiasa Membayangkan Skenario Buruk

Dilansir dari laman KlikDokter, perilaku yang berkaitan dengan rasa pesimis dan kecemasan terhadap masa depan sering muncul akibat tekanan emosional dan ketidakpastian. Dalam kondisi tertentu, seseorang menjadi terbiasa memikirkan kemungkinan buruk sebagai bentuk “persiapan” menghadapi hal yang belum tentu terjadi.

Advertisement

Pada pelajar, kondisi ini sering terlihat ketika siswa langsung merasa takut gagal, takut dipermalukan, atau merasa hidupnya akan hancur hanya karena masalah kecil. Mereka menjadi lebih sensitif terhadap kesalahan dan terus memikirkan hal-hal negatif yang belum tentu benar.

Sebagian siswa bahkan sulit menikmati proses belajar karena pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Mulai dari takut nilai jelek, takut tidak diterima lingkungan, hingga khawatir masa depannya gagal dibanding teman-temannya. Tidak sedikit pelajar yang akhirnya menjadi mudah stres karena merasa harus selalu siap menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi.

Advertisement

Media Sosial Memperkuat Pikiran Negatif

Laman IPB University menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus, seperti doomscrolling, dapat meningkatkan rasa cemas dan kelelahan mental. Doomscrolling adalah kebiasaan membaca berita atau konten negatif tanpa henti di media sosial.

Psikolog IPB University, Nur Islamiah, M.Psi., PhD, menjelaskan bahwa paparan informasi negatif berlebihan dapat membuat seseorang memiliki pandangan yang lebih negatif terhadap diri sendiri maupun kehidupan. Kondisi ini dapat membuat pikiran semakin dipenuhi rasa takut dan pesimisme. Mereka menjadi lebih mudah membayangkan kegagalan dibanding kemungkinan baik yang sebenarnya juga bisa terjadi.

Selain itu, kebiasaan membuka media sosial terus-menerus juga dapat menurunkan fokus dan membuat siswa lebih mudah terdistraksi. Akibatnya, pikiran menjadi semakin penuh dan sulit merasa tenang. Fenomena ini juga berkaitan dengan kelelahan mental atau brain rot, yaitu kondisi ketika otak terlalu banyak menerima informasi tanpa sempat memprosesnya secara sehat.

Doom Thinking Bisa Membuat Siswa Mudah Cemas

Advertisement

Artikel Terkait

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Kota Batu siapkan Rp3,3 miliar dana PIP 2026 untuk 8.283 siswa, utamakan peserta didik keluarga Desil 1–4 DTSEN.

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Kebiasaan mengonsumsi konten digital berdurasi singkat di media sosial dinilai memengaruhi kemampuan fokus siswa saat belajar.

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Berbeda dengan aktivitas menonton film yang menyajikan visualisasi jadi, fiksi membangun simulasi mental yang lebih kompleks.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer