Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (8): Produksi Wortel Tinggi tapi Harga Tak Pasti

Rori Dinanda Bestari • Senin, 6 April 2026 | 09:30 WIB
HASIL PANEN: Seorang petani sayur memperlihatkan hasil panen wortelnya
HASIL PANEN: Seorang petani sayur memperlihatkan hasil panen wortelnya

Dari Sumberbrantas, wortel Kota Batu mengalir ke pasar regional hingga nasional. Produksinya kuat dan kualitasnya terjaga. Namun di hilir, harga kerap tak pasti. Petani sering berhadapan dengan kondisi paling rentan dalam rantai distribusi yang panjang.

RORI DINANDA BESTARI

Hamparan wortel membentang di lereng Gunung Arjuno. Daunnya hijau pekat dan berjajar rapat. Kubis dan sawi tumbuh di sela-sela lahan. Namun, wortel tetap mendominasi. Hampir seluruh petak di Desa Sumberbrantas ditanami komoditas ini.

Tanah vulkanik menjadi kunci karena subur, gembur, dan ocock untuk umbi. Suntoko memahami itu sejak lama. Petani senior itu menyebut sekitar 80 persen lahan difokuskan pada wortel. Alasannya sederhana, yakni lantaran wortel lebih tahan terhadap cuaca.

BACA JUGA Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (7): Dulu Jadi Ikon Kota Kini Ditinggalkan Petani

Risikonya lebih kecil dibanding komoditas lain. Produksi pun relatif stabil. Dari lahan-lahan ini, hasil panen tidak berhenti di desa. Wortel dikirim ke berbagai pasar, mulai dari Malang, Surabaya, hingga kota-kota lain di Jawa Timur. Sebagian bahkan masuk pasar nasional.

Rantai distribusinya panjang. Dari petani, ke pengepul, lalu ke pedagang besar. Baru kemudian ke pasar tradisional dan ritel modern. Di sepanjang jalur itu, harga terus berubah. Petani berada di titik paling awal sekaligus paling lemah.

“Menanam wortel itu seperti berjudi,” kata Suntoko. Ia tidak berbicara soal produksi, melainkan harga. Saat panen melimpah, harga bisa jatuh drastis tak terkendali. Tidak ada kepastian.

Idealnya, wortel dihargai Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram. Angka itu cukup menutup biaya produksi dan memberi keuntungan bagi petani. Namun, kondisi ideal jarang terjadi. Saat panen raya, harga bisa anjlok hingga Rp1.500 per kilogram.

Angka yang nyaris tak masuk akal. Padahal biaya tanam tidak kecil. Bibit, pupuk, dan tenaga kerja terus naik. Kerugian menjadi risiko nyata. Fenomena ini dipicu banyak faktor. Salah satunya pasokan dari luar daerah.

BACA JUGA Pavingisasi Digenjot, Pemkot Batu Gelontorkan Rp12,5 M untuk 81 Titik Jalan Lingkungan

Ketika produksi dari wilayah lain masuk bersamaan, pasar kelebihan stok. Harga langsung tertekan. Petani lokal tidak punya daya tawar. Mereka bergantung pada tengkulak. Dari situlah harga kerap ditentukan sepihak.

Fluktuasi ini terjadi berulang. Dalam satu musim bisa untung. Musim berikutnya bisa rugi besar. Ketidakpastian ini membuat generasi muda ragu. Mereka melihat pertanian sebagai sektor yang tidak stabil. Padahal potensi lahannya besar.

Untuk menyiasati kerugian, petani mencoba berbagai cara. Salah satunya menunda panen. Harapannya, harga bisa membaik. Namun, langkah ini berisiko. Umbi bisa membesar berlebihan, retak, pecah, dan tidak layak jual.

Pilihan petani menjadi sempit. Panen cepat dengan harga murah atau menunggu dengan risiko gagal. Di luar harga, persoalan lain muncul. Pupuk subsidi sulit diakses dan distribusinya tidak merata.

BACA JUGA Proyeksi Pajak Pariwisata di Kota Batu Selama Lebaran Tembus Rp20 Miliar

Petani kecil sering terpinggirkan. Mereka terpaksa membeli pupuk nonsubsidi yang biayanya lebih mahal. Arif Susilo merasakan tekanan itu. Petani muda ini menghadapi situasi yang sama.

Harga wortel saat ini berada di kisaran Rp3 ribu hingga Rp4 ribu per kilogram. Jauh di bawah kondisi ideal. Pendapatan nyaris habis untuk biaya operasional. Selama tiga bulan masa tanam, pengeluaran terus berjalan.

Sementara hasilnya tidak pasti. Meski demikian, produksi tidak berhenti. Wortel tetap dipanen, dikirim ke pasar, dan tetap menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan.

Dari Sumberbrantas, wortel mengisi kebutuhan kota-kota besar menjadi bahan baku dapur rumah tangga.

Namun di balik itu, petani tetap berada di posisi paling rentan. Mereka memproduksi tetapi tidak punya daya mengendalikan harga. Selama sistem distribusi tidak diperbaiki, kondisi ini akan berulang. Produksi kuat, pasar luas, tetapi kesejahteraan petani tetap rapuh. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#alih fungsi lahan #wortel #petani wortel