Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Skema Permodalan Koperasi Pertanian dan UMKM Digodok

R
BERI ARAHAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam forum Pelatihan Perkoperasian di Hotel Selecta, Kecamatan Bumiaji kemarin (28/7). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
BERI ARAHAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam forum Pelatihan Perkoperasian di Hotel Selecta, Kecamatan Bumiaji kemarin (28/7). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

Advertisement

BUMIAJI, RADAR BATU - Akses permodalan dan tata kelola yang belum optimal masih menjadi tantangan utama koperasi sektor pertanian dan UMKM di Kota Batu. Kondisi tersebut dinilai menghambat koperasi mengembangkan usaha. Hal itu juga membuat koperasi sulit menembus jaringan pasar modern yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Persoalan itu menjadi perhatian dalam Pelatihan Perkoperasian yang digelar di Hotel Selecta kemarin (28/7). Wali Kota Batu Nurochman mengatakan mayoritas petani, peternak, dan pelaku UMKM pengolahan hasil pertanian masih bergantung pada pasar tradisional. Padahal, peluang keuntungan lebih besar bila produk masuk rantai pasok pasar modern.

Untuk itu, koperasi membutuhkan dukungan modal kerja. Modal itu untuk memenuhi standar pengemasan, sertifikasi produk, hingga menjaga kontinuitas pasokan.

Karena itu, Pemkot Batu membuka peluang fasilitasi bantuan permodalan melalui berbagai skema. Mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga kemitraan strategis.

Penguatan kelembagaan koperasi juga menjadi prioritas agar bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran. “Koperasi tidak boleh hanya menjadi wadah simpan pinjam. Namun, harus mampu menjadi offtaker hasil pertanian yang profesional dan memiliki daya saing,” ujar pria yang akrab disapa Cak Nur itu.

Advertisement

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menjelaskan kebutuhan modal setiap koperasi harus disesuaikan dengan model bisnis yang dijalankan. “Rasio itulah yang nantinya menentukan skala usaha ideal suatu koperasi,” katanya.

Dian mengakui masih banyak koperasi di Kota Batu yang menghadapi tantangan dari sisi kelembagaan. Indikator koperasi sehat, menurutnya, terlihat dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) secara rutin. Selain itu juga dilihat dari perkembangan usaha yang terukur dan adanya pertumbuhan kinerja.

Sebagai contoh, PT Selecta dinilai dapat menjadi referensi pengembangan koperasi. Sebab, mampu tumbuh menjadi usaha berskala besar. Pengalaman itu diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi koperasi lain di Kota Batu. Untuk memperkuat tata kelola, pendampingan diberikan melalui Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE) bersama Dekopinda.

Pendampingan difokuskan pada transparansi laporan keuangan dan pembenahan manajemen internal. Tujuannya agar koperasi lebih mudah mengakses pembiayaan. “Harapannya, forum dan skema pendampingan ini benar-benar memberi manfaat bagi keberlangsungan koperasi di Kota Batu,” pungkas Dian. (ori/dre)

Advertisement
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Koperasi Coosae Kota Batu Kembangkan Aplikasi AI Rantai Pasok

Koperasi Coosae Kota Batu Kembangkan Aplikasi AI Rantai Pasok

Koperasi Coosae Batu dan UB kembangkan aplikasi AI untuk pangkas rantai pasok hortikultura dan jamin kepastian pasar petani.

9.676 Petani di Kota Batu Terima Bantuan Saprodi

9.676 Petani di Kota Batu Terima Bantuan Saprodi

Distan KP Kota Batu salurkan bantuan saprodi kepada 9.676 petani terdata Simluhtan.

Tanaman Border Cegah Kontaminasi Lahan Organik

Tanaman Border Cegah Kontaminasi Lahan Organik

Petani Kota Batu wajib tanam tanaman border demi cegah kontaminasi lahan organik.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer