Hamparan sawah di kaki Gunung Panderman tak lagi seluas dulu. Garis hijau yang dahulu menyatu kini terputus-putus. Di sela pematang, tembok beton mulai berdiri. Atap vila dan bangunan baru muncul di antara petak-petak sawah.
Pemandangan itu menjadi tanda perubahan yang sulit disangkal. Lahan pertanian di Kota Batu sedang menyusut. Data menunjukkan penurunan yang tajam. Dalam tiga tahun terakhir, luas lahan baku sawah berkurang drastis.
BACA JUGA Pemkot Batu Penuhi Janji, Peraih Emas Porprov Terima Beasiswa 1.000 Sarjana
Berdasarkan data Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) pada 2021, luasnya masih sekitar 1.613 hektare. Angka itu sempat menjadi penopang utama produksi pangan lokal.
Namun kondisi itu tidak bertahan lama. Hingga akhir 2024, luas sawah tersisa sekitar 613 hektare. Artinya, sekitar 1.000 hektare sawah hilang dari peta Kota Batu. Penyusutannya mencapai lebih dari 60 persen. Angka ini bukan sekadar statistik.
Di baliknya, ada hilangnya ribuan ton potensi produksi gabah setiap musim panen. Dampaknya langsung terasa pada produksi Gabah Kering Giling (GKG). Pada 2024, produksi GKG tercatat sekitar 3.659 ton. Setahun kemudian, jumlah itu turun menjadi 3.410,09 ton.
Penurunan mencapai 6,81 persen. Jika dikonversikan ke beras, hasilnya juga menurun. Produksi beras pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 1.969,04 ton. Jumlah itu berkurang hampir 144 ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan ini menunjukkan tekanan nyata pada ketahanan pangan lokal. Alih fungsi lahan menjadi faktor utama. Sejak Batu berkembang sebagai kota wisata, nilai ekonomi tanah melonjak tajam.
Lahan sawah berubah menjadi vila, kafe, hingga hunian eksklusif. Bagi pemilik lahan, pilihan itu terasa rasional. Menjual tanah dianggap lebih menguntungkan dibandingkan bertani. Apalagi di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
Fenomena ini menciptakan paradoks. Di satu sisi, sektor pariwisata mendongkrak ekonomi daerah. Pendapatan asli daerah meningkat. Di sisi lain, sektor pertanian justru kehilangan ruang hidupnya.
Identitas Kota Batu sebagai kawasan agropolitan mulai terkikis. Hilangnya sawah tidak hanya berdampak pada produksi pangan. Ada fungsi ekologis yang ikut hilang. Sawah berperan sebagai area resapan air alami.
Di wilayah pegunungan seperti Kota Batu, fungsi ini sangat penting. Ketika lahan resapan berkurang, risiko lingkungan meningkat. Ancaman krisis air dan potensi bencana menjadi lebih besar.
BACA JUGA Pemkot Batu Salurkan Beasiswa 1.000 Sarjana, Ada 47 Mahasiswa yang Mulai Terima Manfaat
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo menekankan pentingnya data sebagai dasar kebijakan. Menurutnya, pemutakhiran data diperlukan untuk melihat kondisi riil di lapangan.
“Dari situ, langkah perlindungan lahan bisa dirumuskan,” ujarnya. Tanpa intervensi yang kuat, sisa sawah yang ada akan terus tergerus. Tekanan dari sektor komersial terlalu besar. Pemerintah daerah pun menghadapi dilema.
Di satu sisi harus menjaga pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain harus mempertahankan sektor pertanian. Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menilai produktivitas tanaman pangan saat ini berada dalam tekanan. Keterbatasan lahan menjadi faktor utama.
BACA JUGA Banjir Landa Bumiaji Kota Batu: Rumah Warga Terendam Lumpur, Jalan Rusak, BPBD Minta Tetap Waspada
“Ruang gerak petani semakin sempit. Untuk padi, sekarang praktis hanya ditopang Kecamatan Junrejo,” ujarnya. Ketergantungan pada satu wilayah menunjukkan kondisi yang kritis. Wilayah lain seperti Kecamatan Batu dan Bumiaji kini lebih didominasi sektor wisata dan hortikultura nonpangan. Artinya, basis produksi pangan semakin terkonsentrasi.
Jika wilayah tersebut terganggu, pasokan pangan lokal ikut terancam. Situasi ini menempatkan Kota Batu di persimpangan. Pertumbuhan ekonomi dari pariwisata terus berjalan. Namun di saat yang sama, fondasi ketahanan pangan semakin rapuh.
Tanpa kebijakan zonasi yang tegas, sisa lahan sawah akan terus berkurang. Ketika itu terjadi, Kota Batu tidak lagi hanya kehilangan sawah. Ia kehilangan kemampuan untuk mencukupi pangannya sendiri.
Editor : Fajar Andre Setiawan