Fenomena tersebut cukup sering terjadi dalam komunikasi digital sehari-hari. Saat membaca chat, otak terkadang otomatis merespons isi pesan dalam hati sehingga muncul perasaan seolah percakapan sudah selesai.
Akibatnya, seseorang merasa sudah membalas padahal pesan tidak pernah benar-benar terkirim. Kondisi ini biasanya terjadi ketika chat dianggap tidak terlalu mendesak atau seseorang sedang sibuk melakukan aktivitas lain.
Selain itu, rasa malas mengetik panjang juga menjadi salah satu penyebabnya. Tidak sedikit orang yang lebih nyaman berkomunikasi secara langsung dibanding melalui pesan singkat.
Di sisi lain, kebiasaan ini sering memicu salah paham. Pengirim pesan dapat merasa diabaikan, tidak dianggap penting, hingga mengalami overthinking karena chat yang dikirim tidak kunjung mendapat balasan.
Situasi tersebut semakin sering terjadi karena banyaknya notifikasi yang diterima setiap hari. Setelah membaca pesan, perhatian seseorang mudah teralihkan ke aplikasi lain atau aktivitas lain sehingga lupa kembali membalas chat tersebut.
Sebagian orang bahkan baru menyadari pesan belum dibalas setelah beberapa jam hingga beberapa hari kemudian. Hal itu terjadi karena otak sudah merasa menyelesaikan percakapan saat meresponsnya dalam hati.
Bagaimana Solusinya?
Kebiasaan ini sebenarnya dapat dikurangi dengan beberapa cara sederhana. Salah satunya membiasakan diri langsung membalas pesan penting sebelum beralih ke aktivitas lain.
Cara lain yang cukup sering dilakukan adalah menandai chat sebagai belum dibaca agar tetap muncul sebagai pengingat. Sebagian orang juga memilih membalas menggunakan voice note atau telepon jika merasa terlalu lelah mengetik.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak selalu sesederhana mengirim pesan. Terkadang, seseorang memang berniat membalas chat, tetapi pikirannya sudah lebih dulu merasa pesan tersebut terkirim.
Baca Juga: Gandeng Muklay, JTP Group Kolaborasi dengan Trans Jatim
Editor : Aditya Novrian