PADA awal 2000-an, menyebut Songgoriti berarti menyebut tiga besar wisata Batu. Namanya sejajar dengan Taman Wisata Selecta dan Sengkaling. Setiap akhir pekan, kendaraan wisatawan memenuhi jalanan. Vila-vila tak pernah kosong. Wisatawan yang datang ke Selecta kerap memilih bermalam di Songgoriti.
“Dulu yang punya vila di sini hampir seribu kepala,” kata Prabowo, pemilik vila sekaligus warga Songgoriti yang menetap sejak awal 2000-an. Menurut Prabowo, denyut wisata kala itu nyaris tanpa jeda. Musim liburan menjadi puncak. Namun, hari biasa pun tetap ramai.
Songgoriti menjadi pusat penginapan favorit karena letaknya strategis, udaranya sejuk, dan harganya terjangkau. Pada masa itu, Songgoriti tak hanya menjadi tempat singgah, tetapi destinasi utama. Kolam renang, pemandian air panas, hotel, hingga pasar wisata berada dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.
“Songgoriti itu bisa dibilang mendunia. Termasuk dalam 3S yakni Selecta, Songgoriti, dan Sengkaling,” katanya. Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Pengelolaan kawasan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Masalah mulai muncul ketika terjadi tukar guling aset antara Pemerintah Kota Batu dan Pemerintah Kabupaten Malang.
Proses tersebut menyebabkan aset Songgoriti tak bisa langsung beralih ke Pemkot Batu. Kontrak kerja sama dengan pihak ketiga masih berjalan hingga sekitar 2007. “Makanya waktu itu belum diserahkan,” kata Prabowo, yang juga pernah menjabat Kepala Bidang Perpajakan Dispenda Kota Batu sebelum pensiun pada 2016.
Akibatnya, pengelolaan kawasan tetap berada di tangan Pemkab Malang. Kota Batu belum bisa mengambil alih sepenuhnya. Persoalan kian rumit ketika pihak ketiga meninggalkan berbagai tunggakan. Mulai dari listrik hingga air, dengan nilai yang tak kecil. “Kota Batu kemungkinan belum berani mengelola karena masih ada tanggungan,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa Bowo itu menyebut dampak hal itu terasa nyata. Fisik kawasan mulai merosot. Pasar wisata, kolam renang, dan pemandian air panas tampak kurang terawat. Di saat yang sama, persaingan dengan vila-vila baru semakin ketat. Bowo pun harus beradaptasi. Selain menyewakan vila harian, ia membuka kos bulanan khusus laki-laki.
“Daripada kosong,” katanya singkat. Meski demikian, ia yakin Songgoriti masih memiliki kekhasan yang tak dimiliki kawasan lain. Udara dingin, ketenangan, dan sumber air panas alami menjadi modal besar yang belum tergarap optimal.
Harapan serupa disampaikan Ryan Candra, warga Oro-Oro Ombo. Ia mengaku mengalami langsung masa kejayaan Songgoriti. “Dulu nyaman dan asri, meskipun sudah ada BNS dan JTP,” katanya.
Menurut Ryan, Songgoriti tetap menjadi alternatif karena harga lebih terjangkau. Pasar oleh-oleh di kawasan ini dikenal ramah di kantong, dengan pilihan yang beragam. “Kalau beli oleh-oleh, di Songgoriti lebih murah,” ujarnya.
Ryan menilai perbedaan paling mencolok terletak pada pengelolaan. Selecta dan destinasi lain terus berbenah, sementara Songgoriti stagnan. “Kurang dirawat, kurang inovasi, dan perhatian pemerintah minim,” keluhnya.
Padahal, potensi Songgoriti dinilai masih besar. Sumber air panas terbesar di Kota Batu, udara sejuk, dan suasana tenang menjadi daya tarik yang relevan. Termasuk sebagai ruang nostalgia bagi wisatawan yang ingin mengenang masa kecil.
Semua itu, kata Ryan, hanya butuh satu kunci. Yakni tata kelola yang jelas dan berani beradaptasi dengan zaman. Tanpa itu, Songgoriti akan terus hidup sebagai kenangan. Ikon wisata yang pernah besar, lalu perlahan ditinggalkan. (*/dre)
Editor : Aditya Novrian