BATU, RADAR BATU – Jika melihat perkembangan kuliner di Kota Batu dalam beberapa tahun terakhir, ada perubahan menarik yang mulai terlihat. Warung-warung makan sederhana dan legendaris masih ramai dikunjungi, terutama oleh pelanggan yang mengutamakan rasa, porsi, dan harga. Namun di sisi lain, kafe-kafe modern dengan fasilitas lengkap juga semakin diminati, terutama oleh kalangan muda yang menjadikan tempat makan sebagai ruang bekerja, belajar, hingga bersosialisasi.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kuliner kini tidak lagi sekadar soal mengisi perut. Cara masyarakat memilih tempat makan juga dipengaruhi kebutuhan dan gaya hidup masing-masing.
Baca Juga: Cari Bakso Jumbo di Pujon? Bakso Klenger 29 Bisa Jadi Pilihan
Warung Legendaris yang Tetap Jadi Andalan
Bagi banyak pelanggan, terutama generasi yang lebih tua, warung makan masih menjadi pilihan utama. Selain menawarkan cita rasa yang sudah teruji, tempat-tempat ini juga menghadirkan suasana yang akrab dan sederhana.
Salah satunya adalah Warung Nasi Rawon Djamiah Putra yang telah berdiri sejak tahun 1950. Menu andalannya berupa nasi rawon dengan kuah hitam pekat yang kaya rempah dan memiliki cita rasa gurih khas Jawa Timur. Selain rawon, tersedia pula nasi campur, nasi pecel, hingga aneka lauk tambahan seperti empal, babat, dan paru.
Warung yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman No. 62, Ngaglik ini masih menjadi tujuan banyak pelanggan yang mencari menu sarapan maupun makan siang dengan cita rasa yang sudah dikenal lintas generasi.
Masakan Rumahan yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar
Pilihan lain yang juga cukup populer adalah Warung Khas Jawa 1985. Sesuai namanya, warung ini telah melayani pelanggan selama puluhan tahun dengan berbagai menu khas Jawa seperti gudeg, rawon, krengsengan, semur, hingga aneka sayur tradisional.
Bagi sebagian pelanggan, menu-menu tersebut menghadirkan rasa yang akrab dan sulit ditemukan di tempat lain. Lokasinya yang berada di Jalan Diponegoro No. 69, Sisir juga membuat warung ini mudah dijangkau oleh warga maupun wisatawan.
Konsep Prasmanan yang Tetap Diminati
Di tengah menjamurnya tempat makan modern, Warung Bu Ani tetap memiliki daya tarik tersendiri. Warung ini menawarkan konsep prasmanan dengan harga tetap Rp12.000 untuk nasi dan sayur sepuasnya, lengkap dengan dua gorengan sebagai pelengkap.
Konsep sederhana tersebut membuat pengunjung dapat menikmati makanan sesuai porsi yang diinginkan tanpa perlu khawatir biaya bertambah. Tak heran jika tempat ini menjadi favorit pekerja, mahasiswa, hingga keluarga yang mencari makanan rumahan dengan harga terjangkau.
Baca Juga: Jangan Cuma Bunga, Ini 5 Rekomendasi Kado Wisuda yang Bermanfaat untuk Fresh Graduate
Anak Muda Mulai Memilih Kafe sebagai Ruang Aktivitas
Sementara itu, bagi banyak anak muda, tempat makan kini juga berfungsi sebagai ruang produktif. Kafe tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga lokasi mengerjakan tugas, rapat santai, hingga bekerja secara daring.
Salah satu contohnya adalah CANA Coffee & Eatery. Kafe ini menawarkan area indoor dan outdoor yang nyaman, banyak colokan listrik, serta koneksi WiFi yang mendukung aktivitas work from cafe (WFC). Menu yang tersedia pun beragam, mulai dari hidangan Nusantara hingga menu western.
Selain untuk bekerja, suasana estetik dan pemandangan yang ditawarkan membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini.
Bekerja Sambil Menikmati Live Music
Pilihan lain adalah Temu Kamu Coffee & Eatery Batu yang menggabungkan suasana santai dengan fasilitas yang mendukung produktivitas. Pada akhir pekan, kafe ini menghadirkan live music yang menambah kenyamanan pengunjung.
Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari nasi goreng, sop buntut, hingga pasta dan berbagai pilihan kopi. Tak sedikit pengunjung yang datang untuk mengerjakan tugas sekaligus menikmati suasana yang lebih santai dibandingkan ruang kerja atau kampus.
Kafe Modern dengan Nuansa Hangat
Sementara itu, Ancala Coffee menjadi salah satu representasi kafe modern yang banyak digemari generasi muda. Desain interior yang hangat, area duduk yang nyaman, serta banyaknya spot foto estetik menjadikan tempat ini bukan hanya lokasi makan, tetapi juga ruang berkumpul dan berkreasi.
Menu seperti bakmi goreng, pasta, dessert, hingga minuman signature menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati pengalaman kuliner yang berbeda.
Perbedaan yang Saling Melengkapi
Meski sering muncul anggapan bahwa orang tua lebih memilih warung sedangkan anak muda lebih menyukai kafe, kenyataannya batas tersebut tidak selalu tegas. Banyak anak muda yang tetap berburu kuliner legendaris, sementara tidak sedikit orang tua yang menikmati suasana nyaman di kafe.
Namun satu hal yang menarik, perkembangan kuliner di Kota Batu menunjukkan adanya perubahan fungsi tempat makan. Jika warung lebih identik dengan kebutuhan makan sehari-hari, kafe kini berkembang menjadi ruang untuk bekerja, belajar, hingga membangun relasi sosial.
Baca Juga: TEMAN atau LAWAN? Kenali Tanda-Tanda Toxic Friendship yang Diam-Diam Merugikan Kesehatan Mental
Keberadaan keduanya justru membuat peta kuliner Kota Batu semakin beragam. Mulai dari warung sederhana yang mempertahankan resep turun-temurun hingga kafe modern yang mengikuti perkembangan gaya hidup, semuanya memiliki tempat dan penggemarnya masing-masing.
Editor : Aditya Novrian