BATU, RADAR BATU - Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menyiapkan perluasan program Smart Integrated Farming (SIF) secara bertahap hingga 2030. Setelah proyek percontohan seluas 2,59 hektare di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, pengembangan berikutnya diarahkan untuk membangun ekosistem pertanian terintegrasi di desa dan kelurahan lain.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, pembangunan SIF tidak akan dilakukan serentak. Pemkot menyusun tahapan pelaksanaan mulai dari pematangan konsep, penyiapan infrastruktur, hingga operasional dan perluasan jaringan bisnis.
Baca Juga: Kerugian Karhutla Tak Berakhir Saat Api Padam, Pemulihan Hutan Bisa 100 Tahun
Pada 2026, program difokuskan pada finalisasi konsep, riset, dan penyusunan rancangan induk atau grand design. Tahap berikutnya pada 2027 mencakup penyiapan infrastruktur, penguatan kelembagaan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Operasional dan uji coba produksi ditargetkan dimulai pada 2028 sebelum memasuki fase operasional penuh, hilirisasi produk, dan perluasan jejaring bisnis pada periode 2029–2030,” papar Nurochman.
Baca Juga: Penanjakan Bromo Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Patuhi Aturan Ini
Dengan tahapan tersebut, 2027 menjadi fase penting untuk menyiapkan fondasi program sebelum uji coba produksi dimulai. Kesiapan infrastruktur dan kelembagaan akan menentukan pelaksanaan proyek percontohan di Giripurno.
SIF dirancang tidak hanya untuk memodernisasi budidaya pertanian. Program tersebut juga diarahkan untuk menghubungkan kegiatan produksi dengan pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Dengan demikian, pengembangan pertanian diharapkan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal.
Baca Juga: Ganja 5 Kg Dikirim lewat Ekspedisi
Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengatakan, konsep pertanian terintegrasi sebenarnya telah diterapkan sejumlah petani secara mandiri. Limbah sayuran, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara itu, kotoran ternak diolah melalui fermentasi menjadi pupuk organik.
Namun, penerapan secara individual masih menghadapi keterbatasan volume produksi. Karena itu, konsep tersebut hendak dikembangkan dalam skala lebih besar melalui SIF.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi 6 Kali, Kolom Abu Capai 1.200 Meter pada Jumat Pagi
Pemkot juga menempatkan regenerasi petani sebagai salah satu sasaran program. Kalangan milenial dan Generasi Z diharapkan tertarik masuk ke sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, dan jaringan pemasaran yang lebih terstruktur.
Nurochman menyebut, pengembangan SIF membutuhkan keterlibatan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Dinas Pertanian, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag), Dinas Pariwisata, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan terlibat sesuai kewenangan masing-masing.
Baca Juga: Penggemar Film Ernest Prakasa Merapat! Dibintangi Sheila Dara, Teka Teki Tika akan Masuk Netflix
Meski demikian, perluasan program hingga 2030 membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Kesiapan fasilitas, produktivitas pertanian, keterlibatan petani, dan keberlanjutan usaha perlu menjadi indikator sebelum model Giripurno direplikasi ke wilayah lain. “Harapannya juga mudah direplikasi ke desa-desa lain di Kota Batu,” pungkas Nurochman.
Editor : Fajar Andre Setiawan