BATU, RADAR BATU - Smart Integrated Farming (SIF) di seluruh desa dan kelurahan bakal dibangun bertahap hingga 2030. Proyek percontohan seluas 2,59 hektare di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, menjadi tahap awal pembangunan. Ekosistem pertanian yang dibentuk mulai dari budidaya hingga pemasaran.
Namun, perluasan program tidak cukup mengandalkan teknologi. Kepastian pasar, standardisasi produk, dan kesiapan kelembagaan petani menjadi penentu keberlanjutannya. Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengatakan, SIF dirancang sebagai ekosistem bisnis kerakyatan.
Baca Juga: Kerugian Karhutla Tak Berakhir Saat Api Padam, Pemulihan Hutan Bisa 100 Tahun
Bisnis tersebut akan menghubungkan produksi pertanian dengan pengolahan dan distribusi. Model ini tidak berhenti pada penerapan teknologi budidaya. Namun, juga mencakup pengelolaan limbah hingga pemasaran produk. Menurut pria yang akrab disapa Hardi itu, praktik pertanian terintegrasi sebenarnya sudah dijalankan sejumlah petani lokal.
Limbah sayuran dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara, kotoran ternak diolah melalui fermentasi menjadi pupuk organik. Namun, penerapan secara individual masih terbatas dari sisi volume produksi. Karena itu, konsep tersebut akan dikembangkan dalam skala lebih besar di Giripurno.
Baca Juga: Penanjakan Bromo Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Patuhi Aturan Ini
“Tapi kalau secara personal kuantitasnya masih terbatas. Untuk itu, kami buat versi lebih besarnya,” terangnya. Dalam skema SIF, integrasi diperluas hingga sektor hilir. Produk pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk mentah. Namun, juga diolah menjadi produk turunan, seperti sari buah dan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pengolahan tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Rantai pasok juga dirancang menggunakan teknologi Internet of Things (IoT). Melalui platform digital, pelaku usaha hotel, restoran, dan kafe (Horeka) diharapkan dapat memantau ketersediaan produk pertanian secara waktu nyata (real-time).
Baca Juga: Ganja 5 Kg Dikirim lewat Ekspedisi
Hardi menjelaskan, sistem distribusi akan menggunakan pendekatan market-driven supply chain, yakni produksi disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Petani tidak sekadar menanam komoditas berdasarkan kebiasaan. Namun, juga mempertimbangkan permintaan, volume, dan standar kualitas pembeli.
“Sehingga produksi jalan, market-nya juga ada dan terserap optimal,” ujarnya. Untuk mendukung distribusi, pengelola juga merencanakan rumah pengemasan (packing house) terpusat yang dipisahkan berdasarkan komoditas buah dan sayur. Fasilitas itu dilengkapi ruang penyimpanan dan mobil berpendingin.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi 6 Kali, Kolom Abu Capai 1.200 Meter pada Jumat Pagi
Langkah tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas produk sebelum dikirim ke konsumen. Meski demikian, efektivitas skema tersebut akan bergantung pada pelaksanaannya. Ketersediaan aplikasi dan fasilitas pascapanen belum otomatis menjamin hasil produksi terserap. Kepastian kontrak pembelian, konsistensi pasokan, biaya logistik, dan harga yang menguntungkan petani tetap perlu diperhitungkan.
Ekspansi Bertahap hingga 2030
Wali Kota Batu Nurochman menyatakan, pembangunan SIF tidak akan dilakukan serentak di seluruh wilayah. Pemkot menyiapkan tahapan pengembangan mulai 2026 hingga 2030. Pada 2026, fokus diarahkan pada finalisasi konsep, riset, dan penyusunan rancangan induk (grand design). Tahun berikutnya, pembangunan memasuki tahap penyiapan infrastruktur, kelembagaan, standar operasional prosedur (SOP), serta penguatan sumber daya manusia.
“Operasional dan uji coba produksi ditargetkan dimulai pada 2028 sebelum memasuki fase operasional penuh, hilirisasi produk, dan perluasan jejaring bisnis pada periode 2029-2030,” papar Nurochman. Dengan jadwal tersebut, tahun 2027 menjadi fase penting untuk menyiapkan fondasi pelaksanaan program. Sementara itu, uji coba produksi baru ditargetkan berlangsung pada 2028.
Baca Juga: Penggemar Film Ernest Prakasa Merapat! Dibintangi Sheila Dara, Teka Teki Tika akan Masuk Netflix
Artinya, keberhasilan tahap awal perlu diukur melalui kesiapan infrastruktur, kelembagaan, dan model bisnis sebelum konsep diperluas ke wilayah lain. Pemkot juga mengarahkan program ini untuk mendorong regenerasi petani. Kalangan milenial dan Generasi Z diharapkan tertarik masuk ke sektor pertanian melalui akses teknologi, pembiayaan, dan pasar yang lebih terstruktur.
Nurochman menyebut, pelaksanaan SIF membutuhkan keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Dinas Pertanian, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag), Dinas Pariwisata, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan terlibat sesuai tugas masing-masing, mulai pengembangan pertanian hingga dukungan infrastruktur dan distribusi.
Baca Juga: Jakarta Film Week 2026 Day 3 Diselenggarakan Hari Ini, Berikut Jadwal Lengkapnya
Menurut dia, Giripurno diproyeksikan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di desa dan kelurahan lain. Standardisasi produk serta penguatan kelembagaan petani menjadi bagian penting dari pengembangan tersebut. “Harapannya juga mudah direplikasi ke desa-desa lain di Kota Batu,” pungkas Nurochman.
Editor : Fajar Andre Setiawan