Program Satu Desa Satu Dokter Kota Batu Dibidik Jadi Percontohan Nasional

BATU, RADAR BATU - Penempatan dokter hingga tingkat desa dan kelurahan di Kota Batu mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia Benjamin Paulus Oktavianus saat kunjungannya pada 23 Oktober lalu. Program Satu Desa Satu Dokter yang terintegrasi dengan Unit Pelayanan Kesehatan Desa dan Kelurahan (UPKDK) itu diharapkan menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia.
“SDM kesehatan di Kota Batu sangat luar biasa dengan program satu desa satu dokter. Di daerah lain belum ada seperti itu,” ujar Benjamin. Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan kesehatan nasional. Di antaranya, menekan angka stunting dan mendukung eliminasi tuberkulosis (TBC).
Kehadiran dokter di tingkat desa dan kelurahan dinilai dapat memperluas akses pengobatan. Hal itu juga sekaligus memperluas edukasi kesehatan secara langsung kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan berharap program tersebut tidak berhenti sebagai inovasi lokal. Namun, dapat diterapkan di daerah lain. “Jadi, semoga Kota Batu bisa menjadi percontohan nasional untuk inovasi bidang kesehatan,” tegas Benjamin.
Wali Kota Batu Nurochman mengaku berkomitmen mendekatkan layanan kesehatan dengan tempat tinggal masyarakat. Penempatan dokter di desa dan kelurahan menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan medis yang mudah dijangkau warga. Dia juga mengajak masyarakat membiasakan pola hidup sehat dan tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan kesehatan.
“Masyarakat dapat memanfaatkan layanan di wilayahnya masing-masing sebagai akses awal mendapatkan pelayanan medis,” ujarnya. Saat ini, Program Satu Desa Satu Dokter berjalan di 16 titik. Pemkot Batu menargetkan perluasan hingga 24 titik melalui pelaksanaan bertahap dalam beberapa tahun anggaran. Namun, layanannya belum menjangkau seluruh titik sasaran. Penempatan dokter masih dilakukan dengan skema bergilir.



