MALANG, RADAR MALANG - Pemanfaatan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) kini resmi merambah pemutakhiran diagnosis medis noninvasif berakurasi 86 persen serta pengawasan energi surya otonom lewat pengukuhan dua guru besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III Kamis (11/6). Dua akademisi terbaik tersebut, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. dan Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng.
Meski bergerak pada subkepakaran yang berbeda, keduanya kompak mengintegrasikan algoritma pintar untuk memangkas batasan operasional konvensional. Prof. Lailis Syafa’ah, Guru Besar di bidang Rekayasa Biomedis, menggebrak lewat inovasi di ranah medis transdisipliner yang mengawinkan ilmu kedokteran dengan teknik elektro.
BACA JUGA: Gaya Fashion Jude Bellingham yang Kerap Jadi Inspirasi Generasi Z
Selama ini masyarakat, terutama ibu hamil dan pasien cuci darah (hemodialisis), harus menghadapi jarum suntik secara berkala hanya untuk memantau kadar hemoglobin (Hb).
“Dengan rekayasa biomedis ini, pengecekan beralih total menjadi noninvasif alias tanpa rasa sakit," ujarnya.
BACA JUGA: Mengenal Lamine Yamal, Wonderkid yang Diprediksi Bersinar di Piala Dunia 2026
Aplikasi besutannya memanfaatkan jepretan kamera smartphone pada bagian konjungtiva mata pasien. Melalui algoritma AI yang telah diuji klinis, sistem mampu menganalisis saturasi warna kelopak mata dalam hitungan detik. Akurasi prediksinya bahkan menembus angka 86 persen dibandingkan dengan hasil tes laboratorium konvensional.
Teknologi tak kalah canggih juga diinisiasi oleh Prof. Machmud Effendy. Idenya bermula dari rapor merah indikator efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sempat anjlok dari 23 persen menjadi 15,85 persen pada tahun 2025. Ia menawarkan solusi nyata guna mengoptimalkan operasional pembangkit tersebut.
BACA JUGA: Suhu Menurun Drastis, ini 5 Fakta Fenomena Bediding yang Membuat Malang Raya Terasa Sangat Dingin
Inovasi utama yang dipresentasikan Prof. Machmud adalah pengembangan Robot Pembersih Panel Surya Otonom terintegrasi AI dan Kamera Termal. Terobosan tersebut mendapatkan pendanaan dari DIKTISAINTEK melalui program hiliriset 2026. Selama ini, pembersihan panel surya di atas gedung masih mengandalkan tenaga manual manusia yang berisiko tinggi dan kurang konsisten.
“Kamera ini berfungsi melacak adanya titik panas ekstrem kerusakan pada sel surya yang tidak kasat mata, sehingga penurunan daya bisa dideteksi sedini mungkin," urainya. Selain robotik pintar yang didanai Dikti tersebut, riset jangka panjangnya juga berfokus pada sistem akurasi pembagian daya seimbang pada rangkaian panel dan sel baterai.
BACA JUGA: Sambangi Istana, Mantan Wapres Jusuf Kalla Lakukan Diskusi Strategis dengan Presiden Prabowo
Sistem ini diklaim mampu memperpanjang usia pakai komponen PLTS secara signifikan sekaligus menghindari beban berlebih (overload). Implementasi teknologi ini diharapkan membuat investasi energi hijau menjadi jauh lebih murah dan mandiri. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan