Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Menggigil! Mengenal Fenomena Bediding di Balik Cuaca Dingin Ekstrem Malang Raya

Fitri Cahya Dwi Anggriani • Rabu, 10 Juni 2026 | 00:00 WIB
Ilustrasi Malang Raya. (Sumber: Unsplash).
Ilustrasi Malang Raya. (Sumber: Unsplash).

MALANG, RADAR BATU – Belakangan ini, Malang Raya dilanda penurunan suhu ekstrem yang menyebabkan udara jauh lebih dingin dari biasanya, khususnya pada malam hari hingga menjelang pagi.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah fenomena bediding. Bediding merupakan salah satu fenomena alam yang terjadi setiap tahun di sejumlah wilayah Indonesia. Fenomena bediding terjadi saat puncak musim kemarau tiba.

Banyak warg amengaku harus mulai mengenakan jaket tebal saat keluar rumah karena suhu terasa semakin menusuk tulang, meski cuaca sedang terik dan cerah. Apa sebenarnya fenomena bediding dan apa penyebabnya?

Baca Juga: Fenomena Bediding Landa Malang Raya: Tak Perlu Antre di Warung, Ini Resep Wedang Jahe dan STMJ Rumahan

Fenomena turunnya suhu udara ekstrem, hingga menjadi sangat dingin di musim kemarau disebut dengan istilah bediding oleh orang Jawa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bediding merujuk pada masa peralihan menuju musim kemarau yang ditandai udara yang lebih dingin dibanding biasanya.

BPBD Kota Probolinggo menjelaskan bahwa fenomena bediding umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari, sementara pada siang hari, udara akan tetap terasa panas dan kering.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab fenomena bediding ini yang disebabkan oleh menguatnya angin muson Australia. Angin tersebut membawa udara yang bersifat lebih dingin dan kering dari wilayah Australia ke Indonesia.

Baca Juga: Teror DBD Mengintai Kota Batu di Balik Fenomena Bediding

Pergerakan angin muson tersebut menyebabkan penurunan tingkat kelembapan udara dan penurunan suhu pada malam hari.

Selain itu, BMKG Karangploso Malang menjelaskan bahwa suhu dingin yang melanda Malang Raya disebabkan pula oleh tipisnya awan sepanjang musim kemarau. Hal tersebut menyebabkan energi panas bumi langsung terlepas ke atmosfer pada malam hari tanpa adanya lapisan awan yang berfungsi sebagai penahan atau “selimut” alami.

Penyebab lain terdapat pada jauhnya posisi matahari dari garis khatulistiwa, sehingga menyebabkan wilayah selatan khatulistiwa menerima panas matahari lebih sedikit.

Oleh sebab itu, warga diimbau untuk mengenakan jaket tebal saat keluar rumah, dan menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit di saat kondisi udara sedang menggigit.

Editor : Aditya Novrian
#malang raya #bediding