Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Teror DBD Mengintai Kota Batu di Balik Fenomena Bediding

F
PERUBAHAN IKLIM: Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Retno Wulandari menjelaskan dampak kenaikan suhu kelembaban beberapa hari lalu.
PERUBAHAN IKLIM: Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Retno Wulandari menjelaskan dampak kenaikan suhu kelembaban beberapa hari lalu.

Advertisement

 

BATU, RADAR BATU - Anjloknya suhu udara di Kota Batu hingga menyentuh 16 derajat celcius awal Juni ini diiringi lonjakan kelembapan udara hingga 90-95 persen. Kondisi ini menjadi inkubator sempurna bagi ledakan populasi nyamuk Aedes aegypti pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD). Meski belum terjadi ledakan kasus, sepanjang tahun ini Dinas Kesehatan (Dinkes) telah mencatat tiga kasus DBD di Kota Batu.

Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Retno Wulandari membeberkan bahwa angin periodik dari timur ke barat ini membawa massa udara yang kering. Minimnya tutupan awan membuat panas bumi terlepas bebas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada pantulan balik.

Imbasnya, suhu malam hingga pagi hari terasa sangat dingin dan menggigit tulang. Namun, ia menyebut topografi perbukitan Kota Batu membuat tingkat kelembapan udara tetap tertahan pada level ekstrem pada siang hari. “Tingginya angka kelembapan inilah yang menjadi katalisator biologis paling mematikan,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin memaparkan korelasi langsung antara udara lembap dan virologi nyamuk. Udara lembap tak hanya memperpanjang usia hidup nyamuk betina, tetapi juga mengakselerasi fase pertumbuhan telur dan larva.

Lebih parah lagi, siklus replikasi virus dengue di dalam lambung nyamuk menjadi lebih singkat dan cepat matang. Meski otoritas kesehatan belum menetapkan status zona merah, lonjakan aktivitas vektor penyakit ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Icang mencatat tiga pasien positif DBD dengan rincian satu kasus pada Januari dan dua kasus pada Februari.

“Bayang-bayang fatalitas juga masih membekas setelah satu warga Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, meregang nyawa akibat infeksi dengue pada 2025 lalu,” ungkapnya. Menghadapi potensi gelombang penularan di tengah cuaca dingin ini, sistem surveilans dan kecepatan pelaporan di setiap fasilitas kesehatan mulai diperketat.

Kendati demikian, benteng pertahanan utama tetap bertumpu pada intervensi lingkungan. Pihaknya, mendesak warga untuk tidak terlena udara dingin dan kembali merutinkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. “Memutus mata rantai perkembangbiakan di genangan air domestik jauh lebih krusial ketimbang sekadar mengandalkan penanganan kuratif di rumah sakit,” pungkasnya. (Ramyzard Rafsanjani/dre)

Advertisement

Artikel Terkait

Kemarau Lebih Kering Tahun Ini, Ancaman Karhutla Mengintai Kota Batu

Kemarau Lebih Kering Tahun Ini, Ancaman Karhutla Mengintai Kota Batu

BMKG memprediksi kemarau 2026 lebih kering. Kota Batu diminta mewaspadai kekeringan, kebutuhan air pertanian, serta potensi kebakaran hutan

Bromo dan Kota Batu Jadi Wilayah Terdingin di Malang Raya, Ini Penjelasan BMKG

Bromo dan Kota Batu Jadi Wilayah Terdingin di Malang Raya, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena bediding membuat suhu Malang Raya terasa lebih dingin. Suhu Bromo mencapai 5 derajat Celsius, sedangkan Kota Batu 14,8 derajat Cels

Dinkes Kota Batu Sebut Nyamuk Makin Kebal Fogging

Dinkes Kota Batu Sebut Nyamuk Makin Kebal Fogging

Dinkes Batu dorong PSN 3M Plus dan tanaman herbal guna atasi resistensi nyamuk DBD akibat fogging, sekaligus optimalkan imunitas tubuh.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer