BATU, RADAR BATU - Proyek rehabilitasi gedung di tiga sekolah negeri di Kota Batu senilai lebih dari Rp 2,5 miliar kedapatan mangkrak total hingga kemarin (22/5). Kondisi ini terjadi setelah pihak kontraktor, PT Alnusakon Era Laju, kabur dan menelantarkan pekerjaan sebelum tuntas. Akibatnya, ratusan siswa terpaksa diungsikan ke bangunan darurat karena gedung sekolah lama mereka dibiarkan merana tanpa atap.
Buruknya komitmen rekanan dalam pengadaan infrastruktur publik lagi-lagi mengorbankan hak dasar anak-anak atas fasilitas pendidikan yang layak. Pantauan di salah satu lokasi terdampak, yakni SDN Sisir 1, menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Rangka galvalum untuk atap mencuat telanjang ke langit tanpa penutup genting. Tumpukan pasir dan sisa material konstruksi masih menggunung di tengah halaman sekolah.
BACA JUGA: Social Butterfly pada Siswa, Ini Ciri-Ciri dan Dampaknya dalam Kehidupan Sekolah
Sengkarut ini bersumber dari satu pelaksana modal yang sama. Perusahaan asal Jakarta Pusat tersebut memenangi paket proyek di tiga sekolah sekaligus, yakni SMPN 4 Kota Batu, SDN Temas 1, dan SDN Sisir 1. Target penyelesaian semula jatuh pada Desember 2025 lalu. Namun alih-alih menuntaskan kewajiban, sang kontraktor justru memilih angkat kaki setelah memasang struktur bata seadanya.
Kepala SDN Sisir 1 Dewi Nugraeni mengaku tidak mengetahui persis kronologi kaburnya rekanan tersebut. Sebab, dirinya baru dimutasi pada Maret lalu. Guna menyelamatkan kelangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM), pihak sekolah terpaksa meminjam gedung SDN Sisir 2 yang sedang kosong.
BACA JUGA: Mulai dari Meja Makan, Pola Makan Sehat yang Mudah Diterapkan Setiap Hari
“Kebetulan gedung di SDN Sisir 2 memang tidak dipakai, jadi sementara waktu kami menumpang di sana karena lokasinya berdekatan,” ujar Dewi. Sebanyak empat ruang kelas darurat kini dimanfaatkan untuk menampung mobilitas siswa. Mantan Kepala SDN Pandanrejo 1 itu kini harus memperketat pengawasan aktivitas anak didiknya.
Siswa dilarang keras bermain di dekat area konstruksi yang terbengkalai. Tumpukan material sengaja digeser secara mandiri agar area tengah halaman tetap bisa difungsikan untuk upacara bendera dan kegiatan ekstrakurikuler. Otoritas pendidikan setempat tidak menampik adanya wanprestasi serius dari pihak ketiga.
BACA JUGA: Menikmati Manisnya Kota Batu Lewat Deretan Es Krim Kekinian yang Menggoda
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Batu Cahya Wisesa menyebut mayoritas pengerjaan fisik di lapangan rata-rata belum menyentuh angka 50 persen saat ditinggalkan. Capaian di SMPN 4 bahkan jauh lebih mengenaskan. “Dari hasil audit sementara, progres fisik di SMPN 4 Batu malah kurang dari 10 persen," ungkap Sesa.
Kendati mengacaukan kalender akademik, Pemkot Batu setidaknya selamat dari kerugian finansial langsung. Sistem penganggaran proyek ini tidak menggunakan skema pembayaran per termin yang berisiko tinggi. “Beruntung kami tidak sampai kehilangan uang untuk membayar vendor. Sistem pembayaran baru dieksekusi setelah pekerjaan tuntas secara keseluruhan,” tandasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan