BATU, RADAR BATU - Meningkatnya angka pekerja di bawah umur di Kota Batu mendapat atensi khusus aktivis perlindungan anak. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Batu mendesak Pemkot Batu mengubah strategi penanganan. Gerakan penyuluhan massal terintegrasi dinilai menjadi kunci memutus mata rantai eksploitasi ekonomi tersebut.
Ketua Komnas PA Kota Batu Rudianto menyebut momentum krusial penyuluhan terjadi pada masa transisi antarjenjang sekolah. Sasarannya wajib menyentuh orang tua dan anak secara bersamaan. Langkah ini dinilai efektif mengurai sumbatan komunikasi serta ketakutan finansial keluarga.
“Kami harus menginisiasi penyuluhan massal. Caranya dengan menggandeng Penggerak PKK, Forum Anak, hingga jajaran perangkat desa,” terang Rudianto. Selama ini, ikhtiar penyelamatan anak sekolah kerap kandas di tingkat bawah. Orang tua telanjur takut tidak mampu membiayai kebutuhan operasional pendidikan.
Kehadiran dinas terkait dalam penyuluhan massal diharapkan langsung memberi jaminan jaring pengaman sosial yang konkret. Urgensi edukasi kian mendesak seiring pergeseran minat kerja anak ke sektor berisiko. Selain membantu pertanian, sebagian anak usia sekolah kini rentan terseret ke industri hiburan malam.
BACA JUGA: Banjir Kritik, Apa yang Membuat Amerika Menuai Sorotan Negatif di Piala Dunia 2026?
Fenomena tersebut bahkan melibatkan pola migrasi silang antarwilayah Malang Raya. Komnas PA memetakan dua karakteristik pemicu maraknya pekerja anak. Wilayah pedesaan didominasi tekanan budaya lokal seperti pernikahan dini dan tradisi keluarga. Sementara area perkotaan dipicu tingginya biaya hidup serta tuntutan gaya hidup modern.
Merespons fenomena itu, Kepala Dinsos Kota Batu Lilik Fariha memastikan intervensi terus berjalan. Anak putus sekolah dari keluarga prasejahtera langsung diarahkan mengenyam bangku baik pendidikan formal maupun nonformal. “Kami sudah langsung tangani anak putus sekolah lantaran tidak mampu,” ungkapnya.
BACA JUGA: Dampak Fenomena Bediding, Malang Raya Diselimuti Suhu Dingin Ekstrem saat Dini Hari
Salah satu solusi yang ditawarkan yakni dengan mengarahkan mereka melanjutkan ke Sekolah Rakyat. Asesmen Dinsos menunjukkan akar masalah pekerja anak di lapangan sangat kompleks. Selain faktor ekonomi, kondisi keluarga pecah atau broken home turut menjadi penyebab utama.
Lilik kini menyiapkan tiga langkah penanganan strategis berdasarkan klaster masalah. Pendekatan persuasif dilakukan bersama Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) jika anak bersikap keras kepala. Namun jika murni karena kendala biaya, ia segera menjembatani anak ke Sekolah Rakyat dan memasukkan keluarganya ke basis data penerima bantuan sosial. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan