BATU, RADAR BATU – Kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki siswa, terutama pada masa perkembangan remaja. Namun, tidak sedikit siswa yang masih kesulitan mengendalikan rasa marah, kecewa, sedih, hingga stres akibat tekanan akademik maupun lingkungan sosial.
Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian karena pengelolaan emosi yang kurang baik dapat memengaruhi hubungan sosial, konsentrasi belajar, hingga kesehatan mental siswa.
Siswa Perlu Belajar Mengenali dan Mengelola Emosi
Dilansir dari laman Klinik Niumiu, kemampuan mengelola emosi merupakan keterampilan penting yang membantu anak dan remaja menghadapi berbagai tantangan dengan lebih sehat. Siswa yang mampu memahami emosinya cenderung lebih percaya diri dan memiliki hubungan sosial yang lebih baik.
Namun, banyak siswa masih belum mampu mengenali perasaan yang sedang dialami. Mereka sering meluapkan emosi secara berlebihan karena tidak memahami apakah dirinya sedang marah, kecewa, sedih, atau frustrasi.
Selain itu, tekanan akademik, masalah pertemanan, hingga kurangnya komunikasi dengan lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi kestabilan emosi siswa. Dalam beberapa kondisi, emosi negatif yang tidak dikelola dengan baik dapat membuat siswa mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.
Baca Juga: Konsentrasi Pecah Saat Membaca, Simak Upaya Penanganannya
Dilansir dari laman Guru PAUD dan Dikmas Kemendikdasmen, kemampuan regulasi emosi penting dimiliki agar seseorang mampu mengontrol respons emosinya secara sehat dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Lingkungan dan Cara Berkomunikasi Berpengaruh pada Emosi Siswa
Cara lingkungan sekitar merespons emosi siswa dinilai sangat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengendalikan perasaan. Ketika siswa merasa emosinya diabaikan atau diremehkan, mereka cenderung kesulitan mengekspresikan diri secara sehat.
Sebaliknya, dukungan emosional dari orang tua, guru, maupun teman dekat dapat membantu siswa merasa lebih aman dan nyaman dalam menghadapi masalah. Komunikasi yang hangat dan terbuka juga dinilai mampu membantu siswa belajar memahami emosinya sendiri.
Selain itu, siswa cenderung meniru perilaku orang di sekitarnya. Jika lingkungan menunjukkan cara menghadapi masalah dengan tenang dan positif, siswa juga lebih mudah belajar mengelola emosinya dengan baik.
Kondisi emosional yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat berdampak pada aktivitas belajar. Siswa menjadi lebih mudah stres, sulit fokus, hingga kehilangan motivasi dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.
Baca Juga: Toxic Positivity di Kalangan Siswa, Apa Penyebabnya?
Pengelolaan Emosi Perlu Dilatih Secara Bertahap
Untuk membantu mengelola emosi, siswa dianjurkan mulai belajar mengenali dan memahami perasaan yang sedang dialami. Mengungkapkan emosi secara sehat dinilai lebih baik dibanding memendam perasaan sendiri.
Siswa juga dapat mencoba teknik sederhana untuk menenangkan diri, seperti menarik napas dalam, beristirahat sejenak, menulis perasaan, atau melakukan aktivitas yang disukai.
Selain itu, membangun komunikasi yang terbuka dengan orang tua, guru, maupun teman dekat dapat membantu siswa merasa lebih didukung saat menghadapi masalah emosional.
Lingkungan sekolah yang nyaman dan suportif juga dinilai penting agar siswa merasa aman dalam mengekspresikan diri. Dukungan dari guru dan keluarga berperan besar dalam membantu siswa mengembangkan kecerdasan emosional sejak dini.
Editor : Aditya Novrian