Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Toxic Positivity di Kalangan Siswa, Apa Penyebabnya?

C
Penulis: Choirun Nisa❯
Ilustrasi toxic positivity (Sumber: Mudanesia - Pikiran Rakyat)
Ilustrasi toxic positivity (Sumber: Mudanesia - Pikiran Rakyat)

Advertisement

BATU, RADAR BATU – Fenomena toxic positivity mulai banyak dibicarakan di kalangan siswa dan remaja. Sikap yang memaksa diri sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir positif ini dinilai dapat berdampak buruk pada kesehatan mental jika dilakukan secara berlebihan.

Di lingkungan sekolah, toxic positivity sering muncul dalam bentuk ucapan yang terdengar menyemangati, tetapi justru membuat siswa merasa emosi mereka tidak dipahami. Kondisi ini banyak terjadi ketika siswa sedang menghadapi tekanan akademik, masalah pertemanan, hingga persoalan pribadi.

Siswa Kerap Diminta Selalu Berpikir Positif
Dilansir dari laman Gemagazine, toxic positivity merupakan kondisi ketika seseorang merasa harus selalu berpikir positif meski sedang mengalami kesedihan, kecewa, marah, atau tekanan emosional.

Psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman menjelaskan bahwa toxic positivity muncul ketika seseorang menganggap emosi negatif sebagai sesuatu yang salah. Akibatnya, siswa merasa tidak boleh sedih atau kecewa dan memilih memendam perasaannya sendiri.

Fenomena ini dinilai semakin sering terjadi di era media sosial. Banyak siswa melihat unggahan yang menampilkan kehidupan sempurna sehingga merasa harus selalu terlihat bahagia dan kuat. Tidak sedikit pula yang membandingkan masalahnya dengan orang lain lalu merasa bersalah ketika sedang sedih.

Advertisement

Selain itu, toxic positivity juga dapat muncul dari lingkungan terdekat seperti teman, keluarga, maupun sekolah. Ucapan seperti “harus tetap semangat”, “coba lebih bersyukur”, atau “orang lain lebih susah dari kamu” sering dianggap bentuk dukungan, padahal bisa membuat siswa merasa emosinya disepelekan.

Toxic Positivity Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
Dilansir dari Alodokter, toxic positivity dapat membuat seseorang terus menolak emosi negatif yang sebenarnya normal dirasakan manusia. Padahal, rasa sedih, kecewa, marah, atau cemas perlu dikenali dan diekspresikan dengan sehat.

Jika terus dipendam, kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunkan kesehatan mental siswa. Beberapa siswa juga menjadi takut bercerita karena khawatir dianggap kurang bersyukur atau terlalu berlebihan.

Toxic positivity juga membuat siswa merasa harus selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Akibatnya, mereka cenderung menyembunyikan masalah dan kesulitan mencari bantuan ketika sedang tertekan.

Selain itu, kebiasaan membandingkan masalah dengan orang lain juga dapat memperparah kondisi emosional siswa. Padahal, setiap individu memiliki pengalaman dan tekanan yang berbeda-beda.

Advertisement
Editor : Aditya Novrian

Artikel Terkait

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Kota Batu siapkan Rp3,3 miliar dana PIP 2026 untuk 8.283 siswa, utamakan peserta didik keluarga Desil 1–4 DTSEN.

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Kebiasaan mengonsumsi konten digital berdurasi singkat di media sosial dinilai memengaruhi kemampuan fokus siswa saat belajar.

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Berbeda dengan aktivitas menonton film yang menyajikan visualisasi jadi, fiksi membangun simulasi mental yang lebih kompleks.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer