BATU, RADAR BATU - Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung pesta sepak bola global yang penuh sukacita dan menyatukan berbagai belahan dunia. Namun, Amerika Serikat yang menjadi salah satu tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada, justru tengah kebanjiran kritik pedas dari publik internasional. Di balik kemenangan meyakinkan tim nasional mereka di laga pembuka, AS justru dicap oleh sebagian pihak sebagai salah satu tuan rumah dengan organisasi paling kontroversial.
Bukan karena performa pemain di rumput hijau, melainkan karena rentetan kebijakan luar lapangan yang dinilai mencederai kenyamanan dan kesetaraan turnamen. Apa saja sih hal yang membuat Amerika menuai sorotan negatif? Yuk, kita bedah satu per satu!
Baca Juga: Sleep Schedule Berantakan karena Piala Dunia 2026? Ini Cara Tetap Produktif
1. Birokrasi Imigrasi yang Super Ketat dan Menyulitkan Delegasi Resmi
Salah satu pemicu utama gelombang kritik ini adalah ketatnya pemeriksaan dokumen di bandara AS. Alih-alih memberikan kemudahan bagi peserta turnamen resmi, otoritas perbatasan AS dituding terlalu kaku. Sederet nama besar bahkan menjadi korbannya:
-
Wasit Terbaik Afrika Ditolak Masuk: Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang dinobatkan sebagai wasit terbaik Afrika versi CAF 2025, terpaksa gagal memimpin pertandingan Piala Dunia karena mengalami kendala izin masuk ke wilayah AS.
-
Interogasi Panjang Skuad Irak: Striker utama timnas Irak, Aymen Hussein, dilaporkan harus tertahan dan menjalani pemeriksaan tambahan selama hampir tujuh jam di Bandara O'Hare, Chicago, termasuk pemeriksaan telepon genggamnya. Tak hanya itu, fotografer resmi mereka, Talal Salah, bahkan ditolak masuk dan langsung dideportasi.
-
Penggeledahan Skuad Senegal: Rombongan resmi timnas Senegal dikabarkan mendapat pemeriksaan keamanan yang luar biasa ketat dan penggeledahan menyeluruh sesaat setelah mendarat.
-
Hambatan Administrasi Bintang Swiss: Penyerang andalan Swiss, Breel Embolo, sempat terlambat bergabung dengan rekan setimnya gara-gara dokumen visanya mendadak ditinjau ulang oleh pihak AS.
2. Tensi Geopolitik yang Mengorbankan Timnas Iran
Masalah sensitif lainnya menimpa tim nasional Iran. Karena hubungan diplomatik yang rumit, skuad Iran dilaporkan tidak diizinkan mendirikan markas utama (training base) dan menetap di wilayah Amerika Serikat selama turnamen. Akibatnya, mereka terpaksa bermarkas di Tijuana, Meksiko, dan harus melakukan perjalanan lintas negara bolak-balik setiap kali akan bertanding di kota-kota AS. Hal ini dinilai tidak adil karena memberikan beban fisik dan logistik tambahan bagi para atlet.
Baca Juga: Mengenal Lamine Yamal, Wonderkid yang Diprediksi Bersinar di Piala Dunia 2026
3. Harga Tiket yang Mahal dan Kerumitan Logistik
Bagi para penggemar sepak bola, Piala Dunia edisi kali ini terasa kurang ramah di kantong. Harga tiket pertandingan yang dinilai sangat mahal memicu keluhan massal. Ditambah lagi dengan format tiga negara penyelenggara yang menciptakan kerumitan logistik tersendiri, membuat para suporter harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya akomodasi dan transportasi antarkota. Akibatnya, sempat terjadi gelombang pembatalan ribuan tiket oleh suporter dari berbagai negara sebagai bentuk protes terhadap sistem dan kebijakan luar negeri AS yang dinilai arogan.
4. Komersialisasi Aturan "Hydration Break"
Di ranah teknis, kebijakan hydration break (jeda minum) yang diterapkan FIFA di setiap laga juga menuai kritik tajam dari para pemain bintang, salah satunya kapten timnas Belanda, Virgil van Dijk. Van Dijk menyindir bahwa jeda minum tersebut dipaksakan di semua pertandingan bukan murni karena faktor cuaca, melainkan demi memberikan slot tayangan iklan bagi stasiun televisi penyiar di AS. Budaya industri olahraga Amerika ini dianggap merusak ritme permainan serta keasyikan menonton laga sepak bola tradisional.
5. Absennya Presiden Donald Trump di Laga Pembuka
Dari sisi internal kepemimpinan, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk absen dan tidak menghadiri pertandingan pembuka timnas AS saat melumat Paraguay juga menuai kritik deras. Pengamat olahraga menilai keputusan ini sangat tidak lazim bagi seorang kepala negara tuan rumah, mengingat para pemimpin negara pada edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya selalu hadir untuk membuka turnamen secara terhormat.
Pendekatan keamanan dan komersialisasi yang terlalu agresif memang memicu perdebatan besar mengenai batas antara pengamanan maksimal dan kenyamanan para peserta turnamen.
Kalau menurut kalian sendiri bagaimana melihat fenomena ini? Apakah ketatnya prosedur dari Amerika Serikat ini masih bisa dimaklumi, atau justru dinilai terlalu berlebihan hingga merusak esensi sportivitas global? Yuk, bagikan opini kalian!