Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fenomena Backburner Makin Sering Terjadi di Kalangan Gen Z, Hubungan Tanpa Kejelasan Jadi Pemicunya

Parahita Ade Kumala • Selasa, 19 Mei 2026 | 23:00 WIB
Ilustrasi menjadi backburner (sumber foto: magnific)
Ilustrasi menjadi backburner (sumber foto: magnific)
BATU, RADAR BATU – Istilah backburner belakangan semakin ramai dibahas di media sosial, terutama di kalangan anak muda dan Gen Z. Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika seseorang sengaja menjadikan orang lain sebagai cadangan dalam hubungan. Mereka tetap memberi perhatian, menjaga komunikasi, dan memberikan harapan, tetapi tidak benar-benar menjadikan orang tersebut sebagai prioritas utama.

Istilah backburner sendiri sebenarnya berasal dari dunia memasak, yakni merujuk pada tungku kompor bagian belakang. Dalam metafora kompor, tungku depan digunakan untuk memasak makanan yang membutuhkan perhatian penuh, sedangkan tungku belakang hanya dipakai untuk menghangatkan makanan yang tidak perlu diprioritaskan. Dalam hubungan, istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan seseorang yang disimpan sebagai opsi cadangan jika hubungan utama gagal.

Baca Juga: Liburan Tetap Seru Meski Budget Terbatas, Kota Batu Punya Banyak Pilihan Wisata Gratis

Fenomena ini dinilai semakin sering terjadi karena pola komunikasi digital yang kini semakin mudah. Kehadiran media sosial dan aplikasi kencan membuat sebagian orang merasa selalu memiliki banyak pilihan, sehingga enggan berkomitmen dalam satu hubungan yang serius.

Biasanya, orang yang dijadikan backburner mengalami hubungan tanpa kejelasan status. Komunikasi berlangsung tidak konsisten, kadang sangat intens lalu tiba-tiba menghilang. Tidak jarang, seseorang hanya dihubungi ketika pihak lain sedang kesepian, bosan, atau memiliki masalah dengan pasangan utamanya.

Selain itu, pelaku backburner sering memberikan mixed signals. Kadang sangat perhatian dan romantis, tapi tiba-tiba menghilang tanpa kabar atau menghindari pembicaraan soal masa depan hubungan. Mereka tetap memberikan perhatian agar hubungan tidak benar-benar putus, tetapi juga tidak ingin terikat secara serius.

Baca Juga: Journaling di Kalangan Siswa, Ini Manfaatnya

Fenomena ini juga berkaitan dengan kebutuhan validasi emosional. Sebagian orang ingin tetap memiliki seseorang yang selalu ada untuk mendengarkan cerita, memberi perhatian, atau menjadi tempat pulang secara emosional tanpa harus menjalani komitmen yang jelas.

Secara psikologis, kondisi ini dapat menguras energi mental dan memicu stres karena seseorang terus berada dalam hubungan abu-abu yang tidak pasti. Tidak sedikit korban backburner merasa kehilangan rasa percaya diri hingga sulit membuka hubungan baru.

Fenomena backburner juga semakin viral dan menjadi relate di media sosial karena lagu NIKI berjudul Backburner yang dirilis pada 2022 melalui album Nicole. Lagu tersebut menceritakan seseorang yang rela bertahan dan selalu ada untuk orang yang dicintainya, meski sadar dirinya hanya dijadikan pilihan kedua atau opsi cadangan. Lirik dan makna lagu itu dianggap sangat menggambarkan ketidakjelasan hubungan yang kini banyak dialami Gen Z, sehingga istilah backburner semakin populer dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun konten media sosial.

Baca Juga: Hambatan Jaringan Paksa 300 Siswa di Kota Batu Ujian Susulan

Editor : Aditya Novrian
#backburner #relationship #Gen Z #lifestyle