BATU - Gempuran industri pariwisata dan jebakan fluktuasi harga komoditas perlahan mematikan urat nadi regenerasi sektor agraris di Kota Batu. Lumbung hortikultura Jawa Timur kini dihantui krisis petani muda. Penggarap lahan didominasi lebih dari 70 persen petani aktif yang telah memasuki usia senja di atas 50 tahun. Sebaliknya, partisipasi angkatan muda di bawah 30 tahun menyusut tajam hingga tersisa kurang dari 10 persen.
Muhammad Afrizal, petani jeruk di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Ia menilai pergeseran minat ini dipicu gengsi sosial dan beratnya beban kerja fisik di lapangan. “Pengamatan saya dilapangan, pemuda usia produktif di bawah 30 tahun di sektor pertanian Kota Batu kini tersisa kurang dari 10 persen saja,” ungkapnya.
Baca Juga: Dua Dekade, Petani Mawar di Kota Batu Terjebak di Harga Rp 1.000
Teman seangkatannya, kata dia, lebih memilih bekerja di sektor pariwisata, perhotelan, atau membuka cafe kekinian ketimbang harus menjadi petani. Penolakan pemuda untuk turun ke ladang bukan tanpa kalkulasi rasional. Kebutuhan modal awal yang menyentuh puluhan juta rupiah nyatanya tidak sebanding dengan kepastian margin keuntungan.
Saat musim panen raya, harga jual komoditas di tingkat petani sering kali terjun bebas hingga lebih dari 40 persen akibat cengkeraman sistem tengkulak. Kondisi ini menutupi fakta bahwa tanah Kota Batu sangat subur untuk komoditas bernilai tinggi seperti apel, stroberi, hingga cabai.
Baca Juga: Susu Brau Kota Batu Suplai 10 Dapur SPPG
Kecemasan serupa disuarakan Duwi Ari, seorang petani milenial asal Junrejo. Ia menyoroti tiga faktor krusial penghancur regenerasi, yakni ketidakpastian harga pasar, meroketnya harga pupuk dan pestisida, serta kian sempitnya ruang bertani. Puluhan hektare lahan produktif setiap tahunnya beralih fungsi menjadi vila, hotel, dan perumahan komersial.
Duwi menilai anak-anak sekarang sudah semakin pintar. Mereka melihat sendiri orang tuanya yang bertani hidup pas-pasan sehingga menjadi kapok. “Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa langkah konkret, Kota Batu dikhawatirkan bakal kehilangan identitasnya sebagai penghasil produk pertanian,” kata Duwi dengan nada cemas.
Baca Juga: Nilai Tertinggi Belum Menjamin Jadi Sekda Kota Batu, Keputusan Final Ada di Tangan Wali Kota
Menahan laju eksodus tersebut, Pemkot Batu mulai menggulirkan skema penyelamatan melalui adopsi teknologi. Intervensi berbasis smart farming, pembangunan greenhouse, hingga mekanisasi mesin coba ditawarkan untuk membuang stigma kumuh. Melalui digitalisasi ini, aktivitas bertani beralih pada kendali pengairan otomatis dan efisiensi pemupukan lewat gawai cerdas. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan