BATU, RADAR BATU - Tren penurunan sampah di Kota Batu berbalik arah. Volume timbulan naik menjadi 125 ton per hari, bertambah sekitar 2 ton dibanding periode sebelumnya. Kenaikan ini berkaitan dengan mulai beroperasinya Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG). Aktivitas dapur program tersebut memunculkan sumber baru sampah organik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengatakan tambahan berasal dari sisa konsumsi dan proses pengolahan makanan. “SPPG menyumbang sekitar 1-2 ton sampah per hari,” ujarnya.
Sampah tersebut tersebar di sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Keliling (TPSK) di desa dan kelurahan. Dampaknya, beban pengelolaan yang sempat stabil kembali meningkat. Secara umum, produksi sampah per kapita di Kota Batu mencapai 0,5 kilogram per hari. Separo di antaranya berupa sampah organik.
Dalam skala operasional, satu unit SPPG yang melayani 2.000 porsi dapat menghasilkan sekitar 400 kilogram sampah organik. Jika terdapat 10 unit aktif, tambahan beban bisa mencapai 4 ton per hari.
Berdasarkan hasil uji petik dan survei singkat kepada ibu rumah tangga di Kota Batu menunjukkan limbah ini bersifat tambahan. Tidak ada pengurangan signifikan dari sampah rumah tangga. “Mayoritas rumah tangga tetap memasak seperti biasa, meski anak mendapat program makan bergizi,” kata Dian.
Baca Juga: Sampah Pasar Induk Among Tani Kota Batu Bakal Jadi Biogas
Kondisi ini menandakan munculnya titik timbulan baru, bukan pergeseran sumber sampah. Akibatnya, fasilitas pengolahan seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recyle (TPS3R) mulai kewalahan. Padahal TPS3R selama ini sudah mulai kewalahan menangani volume sampah eksisting.
Di sisi lain, regulasi pusat dinilai belum mengatur pengelolaan limbah SPPG secara rinci. Petunjuk teknis belum memuat prosedur tetap pengolahan sampah. Sebagai respons, pemerintah daerah mendorong pengolahan mandiri di setiap unit SPPG. Setiap dapur diarahkan memiliki komposter atau biodigester.
Saat ini, kebijakan itu masih sebatas imbauan. Ke depan, akan diperkuat melalui surat edaran (SE) khusus. Strategi jangka panjang disiapkan melalui Rencana Induk Persampahan (RIPS). Dokumen ini akan diturunkan menjadi peta jalan lima tahunan dalam bentuk Perwali. “Kami ingin setiap aktivitas publik punya mitigasi limbah yang jelas,” tegas Dian.
Baca Juga: Kandang Sampah Botol Ganggu Estetika Kajoetangan
Pihaknya menambahkan saat ini hanya fokus mengelola sampah di 21 ruas jalan protokol dan sebagian permukiman yang belum mandiri dalam pengelolaan sampah. Dengan adanya road map tata kelola yang baru, dirinya ingin memastikan setiap aktivitas publik, termasuk program baru, sudah memiliki mitigasi limbah yang jelas.
Sementara itu, Sekretaris Wilayah SPPG Kota Batu Elmico Duta menyebut pengelolaan sampah saat ini dilakukan melalui kerja sama dengan TPS3R. Setiap unit dapur wajib menjalin kesepakatan resmi. Pengelola SPPG juga membayar iuran sampah bulanan sesuai perjanjian.
Secara teknis, pengangkutan dilakukan dua kali sehari mengikuti ritme dapur. Sebagian limbah juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Pengelolaan terus kami sesuaikan agar tetap terkendali,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho