BATU - Upaya menekan timbulan sampah organik di Kota Batu terus diperkuat. Melalui optimalisasi 16 rumah kompos dan dua unit big composter, produksi kompos diproyeksikan menembus 2.538 ton per tahun.
Pengolahan dilakukan di tingkat desa hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung. Skema ini dirancang untuk mengurangi beban sampah harian sekaligus menekan emisi gas metana dari timbunan sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan, mengatakan rumah kompos menjadi tulang punggung pengelolaan sampah organik di tingkat desa dan kelurahan. Saat ini terdapat 16 titik yang beroperasi, terdiri atas 13 desa dan dua kelurahan.
Operasionalnya dibagi menjadi dua tipe. Tipe pertama seluas 2x15 meter persegi, melayani 750-1.500 kepala keluarga. Tipe kedua seluas 8x15 meter persegi, melayani hingga 3.500 kepala keluarga di wilayah dengan volume sampah lebih tinggi.
“Satu rumah kompos rata-rata mampu memproduksi sekitar satu ton per hari,” ujarnya.
Dengan kapasitas tersebut, total produksi dari rumah kompos diperkirakan mencapai 1.728 ton per tahun.
Selain itu, dua unit big composter di TPA Tlekung memperkuat sistem pengolahan. Fasilitas seluas total 320 meter persegi itu menangani sisa sampah organik yang belum terkelola di tingkat desa.2
Estimasi sampah organik di fasilitas ini mencapai empat ton per hari. Dari dua unit tersebut, potensi produksi kompos diproyeksikan sekitar 810 ton per tahun. Integrasi rumah kompos dan big composter diharapkan memperkuat kemandirian pengelolaan sampah. (ori/dre)
Baca Juga: Sepekan Puasa, Harga Buah dan Sayur Kompak Naik
Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela
Editor : Aditya Novrian