Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Nasib Songgoriti, Aset Wisata yang Berdiri di Atas Ketidakpastian (15) Menanti Lahirnya Kampung Budaya dari Kawasan yang Lama Tertidur

Aditya Novrian • Senin, 9 Februari 2026 | 11:15 WIB
BAKAL DIREVITALISASI: Kawasan ikonik Songgoriti yang dulunya menjadi jujugan wisatawan diwacanakan bakal ditransformasikan menjadi kampung budaya.
BAKAL DIREVITALISASI: Kawasan ikonik Songgoriti yang dulunya menjadi jujugan wisatawan diwacanakan bakal ditransformasikan menjadi kampung budaya.

Songgoriti pernah menjadi jantung pariwisata Kota Batu. Kini, kawasan itu menunggu babak baru. Yakni transformasi menjadi Kampung Budaya. Di tengah sengkarut birokrasi dan aset yang belum tuntas, harapan revitalisasi berbasis tradisi perlahan dirajut.

Memasuki gerbang Songgoriti, suasana sunyi langsung terasa. Jalanan yang dulu riuh oleh kendaraan wisata kini lengang. Hanya sesekali sepeda motor warga melintas. Memecah keheningan yang menggantung di udara pegunungan.

Deretan kios oleh-oleh di area pasar banyak yang tertutup rapat. Pintu besi berkarat menandakan telah lama absennya aktivitas jual beli. Bangunan tampak reyot dimakan usia. Cat dinding mengelupas, genting retak, dan lumut merambat di sudut bangunan.

Beberapa hotel tua masih berdiri. Tegak, namun renta. Menjadi saksi bisu ketika Songgoriti masih jadi primadona wisata. Jauh sebelum hotel-hotel modern menjamur. Kini kawasan itu seperti hidup segan mati tak mau. Berdiri, tetapi tanpa denyut yang berarti.

Jalan aspal yang membelah kawasan vila tak lagi seramai dulu. Bus-bus pariwisata sesekali melintas. Namun hanya sekadar lewat menuju destinasi lain. Songgoriti seolah menjadi oase yang tertidur di tengah agresifnya pembangunan pariwisata modern.

Meski kondisi fisik tampak lesu, secercah harapan mulai muncul. Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata tengah merancang arah baru. Yakni menghidupkan Songgoriti sebagai Kampung Budaya.

“Kalau kami sudah memiliki kewenangan revitalisasi, kami akan hidupkan kembali dengan rebranding kawasan itu menjadi Kampung Budaya Songgoriti,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, Sintiche Agustina Pamungkas.

Pilihan pendekatan budaya bukan tanpa alasan. Songgoriti dinilai memiliki modal sosial dan tradisi yang kuat. Setiap tahun warga masih menggelar Selamatan Desa dalam skala besar. Hal itu menandakan napas kebudayaan belum sepenuhnya padam.

Langkah awal yang dibidik yakni penguatan sumber daya manusia. Status sebagai Kampung Budaya menuntut kesiapan warga dalam menyambut wisatawan. Sosialisasi dan pelatihan akan menjadi prioritas. Mulai dari penyajian atraksi budaya hingga standar pelayanan wisata.

“Warga harus siap. Mulai dari cara menyuguhkan atraksi sampai pelayanan yang baik bagi wisatawan,” kata perempuan yang akrab disapa Iche itu. Songgoriti memiliki kekayaan tradisi yang khas. Kesenian bantengan menjadi salah satu ikon yang masih bertahan.

Ritual Ngarak Banteng digelar rutin dan selalu menyedot perhatian. Tradisi itu memiliki keterkaitan erat dengan Candi Songgoriti. Ada kepercayaan lokal bahwa pemain bantengan yang kerasukan hanya bisa disembuhkan jika dibawa ke area candi.

Selain itu, ritual Jenang Suro juga menjadi daya tarik tersendiri. Setiap bulan Suro atau Muharram, warga membuat dan membagikan bubur khusus di sekitar kompleks candi. Ritual itu menjadi wujud syukur sekaligus permohonan keselamatan.

Biasanya ritual itu juga diiringi tembang macapat dan doa bersama. Interaksi antara tradisi, mistisisme, dan situs sejarah inilah yang menjadi kekuatan utama Songgoriti. Apalagi Candi Songgoriti memiliki fenomena alam unik berupa tiga sumber air dengan suhu berbeda.

Sumber air dengan suhu panas, dingin, dan belerang mengalir berdampingan dan memperkuat kesan sakral kawasan itu. Namun, jalan menuju revitalisasi total tidak mudah. Sengketa kepemilikan dan pengelolaan aset antara Pemkot Batu dan PT Jasa Yasa masih menjadi penghambat utama.

Aset vital seperti hotel dan pemandian air panas masih berada di bawah kendali. Kendati secara administratif berada di wilayah Kota Batu. Ketidakpastian hukum itulah yang membuat investasi besar sering tertunda. Banyak rencana revitalisasi terhenti sebelum benar-benar berjalan. Songgoriti pun terus menunggu kejelasan yang tak kunjung datang.

Meski begitu, upaya kecil terus dirintis. Pemerintah Kota Batu berencana meningkatkan status kawasan menjadi tingkat provinsi. Jika berhasil, peluang dukungan anggaran dari pemerintah pusat akan terbuka lebih lebar. “Kalau sudah masuk level nasional, intervensi anggaran dari kementerian bisa masuk untuk penataan kawasan sekitar candi,” imbuh Iche.

Di tengah keterbatasan itu, kemandirian warga menjadi kekuatan tersendiri. Banyak kegiatan budaya digelar secara swadaya. Para pegiat seni dan pelaku ekonomi kreatif tetap bergerak. Meski tanpa sokongan anggaran besar. Sikap terbuka dan kreatif warga menjadi energi penting bagi upaya kebangkitan Songgoriti.

Sektor UMKM juga diharapkan ikut kembali bergerak jika arus wisatawan pulih. Penginapan, warung makan, dan kios oleh-oleh yang kini sepi bisa kembali hidup. Memori kolektif tentang Songgoriti sebagai kawasan wisata sejuk di kaki gunung diharapkan bangkit kembali.

Bedanya, kali ini dengan identitas baru yakni kampung berbasis budaya dan kearifan lokal.

Menggeliatnya Songgoriti bukan sekadar menghidupkan satu kawasan. Lebih dari itu, menjadi upaya menyeimbangkan wajah pariwisata kota yang selama ini didominasi wahana modern. Jika transformasi itu terwujud, Songgoriti tak lagi sekadar bayang-bayang masa lalu. Melainkan ruang baru yang mengintegrasikan tradisi, sejarah, dan masa depan. (*/dre)

 

Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi

Editor : Aditya Novrian
#budaya #songgoriti #wisata