BATU - Layanan angkutan pelajar (Apel) gratis di Kota Batu berhenti sementara mulai 18 Desember besok. Penghentian ini dilakukan bertepatan dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta berakhirnya tahun anggaran, sehingga operasional armada tidak dapat dilanjutkan hingga akhir Desember.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu Hari Juni Susanto menjelaskan sebagian besar sekolah telah memasuki libur akhir semester. Sementara, anggaran layanan Apel gratis berakhir pada pertengahan Desember. “Tahun anggaran sudah habis di tanggal itu. Karena itu, layanan tidak bisa diteruskan sementara waktu,” ujarnya.
Selama layanan dihentikan, Juni meminta orang tua dan siswa yang biasa memanfaatkan Apel gratis untuk menggunakan angkutan kota (angkot) reguler dengan tarif normal. Dia menegaskan penghentian ini bersifat sementara. “Januari nanti sudah operasional kembali, seiring dimulainya tahun ajaran baru dan anggaran baru,” katanya.
Namun, kebijakan tersebut menuai keluhan dari pengelola lapangan. Koordinator Apel Gratis Jalur Batu-Songgoriti, David Ramadan, menyayangkan penghentian layanan dilakukan sebelum seluruh sekolah resmi libur. Ia menyebut, masih ada sekolah yang baru memasuki libur semester pada 22 Desember mendatang.
“Artinya, ada sisa dua hari siswa masih bersekolah tetapi sudah tidak bisa mengakses Apel gratis,” ujar David. Dalam kondisi normal, tarif angkot untuk pelajar berkisar Rp3 ribu untuk sekali perjalanan. Meski demikian, David mengaku enggan menarik biaya dari pelajar meskipun layanan tersebut tidak lagi disubsidi Pemkot Batu.
“Sudah dua tahun kami melayani pelajar gratis. Kalau tiba-tiba harus menarik biaya, rasanya ewuh pakewuh,” katanya. Ia juga menyoroti perencanaan anggaran layanan Apel gratis. Selama dua tahun terakhir, kata David, persoalan berhentinya layanan sebelum libur sekolah tidak pernah terjadi.
Padahal, layanan tersebut terbukti membantu mobilitas pelajar dan meringankan beban orang tua. Seharusnya saat Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) Oktober lalu, layanan ini sudah diperhitungkan karena peminatnya tinggi. Meski penghentian hanya berlangsung singkat, David menilai kebijakan tersebut tetap perlu menjadi bahan evaluasi. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho