BATU - Belakangan muncul wacana penyaluran pupuk subsidi melalui koperasi.
Wacana itu sontak disambut baik petani Kota Batu.
Skema tersebut dinilai akan memudahkan petani.
Itu lantaran mereka tak harus menunggu penebusan pupuk secara kolektif.
Sayangnya, saat ini koperasi khusus petani masih belum terbentuk.
Sehingga, realisasinya kemungkinan tidak bisa dalam waktu dekat.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Makmur, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Sujito mengatakan selama ini petani masih membeli pupuk di kios-kios.
Ditambah, pembelian pupuk subsidi harus dilakukan secara kelompok.
“Meski konsepnya bagus saya kira perlu waktu untuk pembentukan koperasi,” ungkapnya.
Apalagi belum semua petani tergabung dalam Gapoktan.
Masih sekitar 50 persen saja yang sudah masuk dalam Gapoktan.
Belum lagi, petani yang tergabung mayoritas sudah tua.
Sehingga, tak memungkinkan untuk menjadi pengurus koperasi yang produktif.
“Saya rasa ini perlu pendampingan dari dinas terkait,” harapnya.
Namun, dia optimistis petani yang belum masuk Gapoktan akan tergerak gabung.
Sebab, jika wacana itu benar adanya, petani yang tidak tergabung dalam gapoktan akan kesulitan mengakses pupuk subsidi.
Itu juga akan membuat penyaluran pupuk subsidi tidak merata.
Selain itu, jumlah anggota yang kecil juga akan menghasilkan keuntungan yang rendah.
Sujito mengaku membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan Gapoktan dari desa atau kelurahan lainnya.
“Kalau yang paling memungkinkan ya beberapa desa digabung jadi satu koperasi,” ujarnya.
Selain untuk keperluan menyalurkan pupuk subsidi, koperasi juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat menjual hasil pertanian.
Itu jika jenisnya adalah koperasi produksi.
Petani yang butuh bantuan modal juga bisa pinjam ke koperasi dengan bunga rendah.
Sehingga, petani bisa terbebas dari jeratan sistem tengkulak. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana