Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Empat Siswa di Kota Batu Putus Sekolah, Pilih Kerja Bantengan

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 6 September 2024 | 18:00 WIB
RAMAI: Bantengan Nuswantara Trance Festival 2024 di Kota Batu dipadati pennton.
RAMAI: Bantengan Nuswantara Trance Festival 2024 di Kota Batu dipadati pennton.

BATU - Kesenian bantengan tengah naik daun di Malang Raya.

Sayangnya, hal itu juga diikuti potensi meningkatnya anak putus sekolah.

Sebab, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu mencatat ada empat siswa SMP yang memutuskan berhenti sekolah.

Itu lantaran mereka lebih memilih bekerja dengan grup kesenian bantengan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang SMP Disdik Kota Batu Hariadi.

Namun, pihaknya enggan membuka identitas masing-masing siswa tersebut.

Termasuk asal sekolah mereka.

Yang jelas Hariadi menyampaikan keempat siswa tersebut saat ini resmi putus sekolah.

Empat siswa itu berasal dari SMP yang sama di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.

“Ini kasusnya semester lalu. Bukan semester tahun ajaran baru ini,” ucapnya.

Ia mengatakan awalnya keempat siswa itu sering tak masuk sekolah.

Saat diselidiki oleh pihak sekolah, keempat siswa tersebut mengaku bekerja. Alasannya untuk membantu ekonomi keluarga.

Namun, saat ditelusuri lebih jauh, ternyata keempat siswa itu bekerja di sebuah grup kesenian bantengan.

Hariadi menilai hal itu bukan lagi karena faktor ekonomi.

Sebab, pihaknya sudah beberapa kali mendatangi rumah keempat siswa tersebut.

“Kami bertemu dengan orang tuanya dan melakukan dialog agar anakanak tersebut bisa kembali sekolah,” ungkapnya.

Bahkan, dirinya sudah menyiapkan beasiswa khusus.

Sayangnya, keempat siswa tersebut sudah tak memiliki minat sama sekali untuk melanjutkan sekolah.

Hariadi mengaku tak mempermasalahkan kegiatan seni yang mereka ikuti.

Asalkan masih bisa memprioritaskan pendidikannya.

Namun, ia menilai keempatnya sudah sampai tahap kecanduan.

Itulah mengapa mereka enggan sekolah lagi.

Pihaknya berharap ada aturan tegas di Indonesia yang mewajibkan anak untuk bersekolah.

Setidaknya sampai lulus SMA.

Sehingga, hal semacam itu tidak terulang lagi.

Ia menambahkan jika empat siswa tersebut punya banyak catatan merah di sekolah.

Misalnya, sering membuat keributan dan mengganggu temannya.

“Tapi kalau mereka bersedia melanjutkan sekolah tentu saja sekolah tetap akan menerima,” pungkasnya. (aff/dre)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#putus sekolah #pendidikan #kota batu #disdik #bantengan