Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Musim Kemarau Pangkas Separo Biaya Perawatan Apel

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 19 Juni 2026 | 15:11 WIB
BERKAH KEMARAU: Petani apel Kecamatan Bumiaji memetik apel jenis Anna di kebunnya beberapa hari lalu.
BERKAH KEMARAU: Petani apel Kecamatan Bumiaji memetik apel jenis Anna di kebunnya beberapa hari lalu.

BATU - Musim kemarau membawa angin segar bagi sektor pertanian apel di Kota Batu. Cuaca kering membuat ongkos perawatan kebun turun drastis. Petani kini cukup menyemprot obat seminggu sekali. Sebelumnya, petani harus menyemprotnya hingga dua kali dalam seminggu. Itu artinya, biaya perawatan terpangkas hingga 50 persen.

Pemilik kebun apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Nur Ikhsan mengatakan cuaca panas sangat mendukung fase krusial budidaya apel berupa penyerbukan bunga.

“Penyerbukan benang sari banyak yang berhasil menjadi buah. Bunga tidak rusak atau rontok karena terbebas dari guyuran air hujan,” ungkap Ikhsan. Absennya hujan juga menekan ancaman penyakit busuk buah secara signifikan.

Baca Juga: Kuasai 99 Persen Apel, Bumiaji-Kota Batu Jadi Pusat Produksi Buah

Penularan jamur atau bakteri pembusuk berjalan sangat lambat di lahan kering. “Kalau musim hujan dan telat menyemprot obat, penularan busuk buah itu sangat cepat. Dampaknya fatal karena bisa memicu gagal panen hingga 70 persen,” tambahnya.

Saat musim hujan, petani wajib menyemprotkan obat minimal dua kali seminggu. Intensitasnya bahkan bisa naik menjadi dua hari sekali jika cuaca ekstrem melanda. Kini, jadwal penyemprotan bisa dipangkas menjadi hanya seminggu sekali. Ikhsan membeberkan biaya perawatan kebun apel saat musim hujan bisa menyentuh Rp 60 juta dalam satu musim.

Biaya fantastis itu mencakup pembelian pestisida, upah tenaga kerja, serta pengadaan pupuk kimia dan kandang. Pada musim kemarau, pengeluaran rutin tersebut bisa ditekan secara maksimal. Kondisi serupa dialami Suliono, petani apel asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji.

Baca Juga: Petani Apel Kota Batu Tinggal 25 Persen, Serangan Penyakit Picu Alih Komoditas

Ia mengelola lahan seluas 2.500 meter persegi dengan populasi sekitar 500 pohon apel. Suliono mengaku penghematan biaya penyemprotan sangat terasa menyelamatkan kas petani saat kemarau. “Sekali semprot saya menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 juta untuk luasan 500 meter persegi. Jadi untuk total lahan, saya butuh Rp 17,5 juta,” paparnya.

Meski bebas dari jamur, musim kemarau tetap membawa tantangan baru. Ancaman kini bergeser pada serangan hama serangga yang berkembang biak lebih cepat saat cuaca panas. Fokus penyemprotan kini dialihkan pada cairan insektisida. Ia pun mengombinasikan dengan pestisida nabati guna menyiasati harga obat kimia yang mahal.

Baca Juga: Harga Apel di Petani Cuma Rp10 Ribu, Sampai Konsumen Melonjak Rp40 Ribu per Kg

Kondisi ini sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso. Malang Raya saat ini dipastikan telah memasuki periode kering. Forecaster BMKG Karangploso Retno Wulandari menyebut musim kemarau ini berlangsung sejak awal Juni hingga Juli.

Suhu panas diprediksi sedikit mereda pada Agustus. Namun, suhu lingkungan akan kembali meningkat tajam pada September mendatang. “Kelembaban udara saat ini mencapai 50 persen ketika siang hari dan melonjak hingga 90 persen malam hari. Kondisi ini dipicu pengaruh Angin Muson Australia yang sifatnya sangat kering,” jelas Retno. (kr2/dre)

Editor : A. Nugroho
#Musim kemarau #pertanian apel #bmkg #kota batu