BATU - Kegiatan karnaval budaya dalam rangka memeringati HUT Ke-80 RI membawa berkah tersendiri bagi warga Kota Batu. Perputaran ekonomi menjadi semakin pesat. Terutama bagi penyedia jasa parkir dan pelaku UMKM. Setidaknya penyedia jasa parkir bisa meraup uang Rp 25-50 juta dalam sehari. Sedangkan omzet pelaku UMKM jika ditotal bisa mencapai Rp 400-500 juta.
Kepala Desa Bulukerto Suhermawan mengatakan event karnaval budaya masih efektif menyedot animo masyarakat. Tidak hanya untuk tampil tetapi juga untuk menonton. Sejauh ini karnaval budaya masih memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi itu menjadi sarana rekreasi yang bisa dinikmati secara cuma-cuma alias gratis. Meski para penonton harus membayar karcis pakir lebih mahal dari biasanya.
“Biasanya penonton karnaval akan ditarik biaya karcis parkir sebesar Rp 5 ribu untuk roda dua dan Rp 10 ribu untuk roda empat,” ungkapnya. Namun, bisa jadi tarifnya beragam. Sebab, pemerintah desa (pemdes) tidak mengoordinasi langsung penyediaan jasa parkir tersebut. Semua diserahkan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat yang memiliki lahan luas bisa memanfaatkannya untuk membuka jasa parkir tersebut.
Kendati begitu, biasanya pengelolan parkir tidak diurus pemilik sendirian. Melainkan bekerja sama dengan kelompok pemuda seperti karang taruna. Suhermawan menegaskan bila hasil parkir akan masuk ke kantong pribadi. Alias tidak ada yang disetorkan kepada pemdes. Lebih lanjut dia menyampaikan setiap event karnaval budaya bisa menyedot 10 ribu penonton. Penonton tidak hanya datang dari desa tetangga saja.
Namun, ada pula yang dari Kabupaten Malang seperti Pujon, Ngantang, hingga Kasembon. Dengan banyaknya penonton yang berdatangan, perputaran ekonomi tidak hanya dirasakan warga desa si empunya hajat. Melainkan juga warga desa sekitarnya. Pasalnya, lahan-lahan parkir yang dibuka juga banyak yang dari luar desa. “Kalau diestimasikan 10 ribu kunjungan menggunakan roda dua semua, setidaknya hasil parkir bisa mencapai Rp 50 juta,” terangnya.
Selain itu, perputaran ekonomi di sektor UMKM juga tak kalah bergeliat. Sama halnya dengan parkir, pelaku UMKM juga tak dikoordinasi pemdes. Suhermawan mengaku hanya menyediakan lokasi tenant saja. Siapa pun yang ingin berjualan dipersilakan. Asalkan melakukan pendaftaran lebih dulu. Pihaknya menegaskan tak ada biaya sewa atau bagi hasil yang perlu dibayarkan pelaku UMKM. “Semua masuk kantong pribadi,” tegasnya.
Setidaknya ada 500 pelaku UMKM yang terlibat setiap event karnaval budaya di desa. Masing-masing PKL rata-rata bisa meraup omzet Rp 400-500 ribu. Artinya, potensi total perputaran uang di lingkaran UMKM bisa tembus Rp 200-250 juta. Sehermawan menambahkan bila dalam event tersebut tidak berorientasi terhadap untung. Pasalnya, fokus utamanya adalah perayaan untuk rakyat dan kemerdekaan Indonesia.
Senada dengan itu, Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi juga mengaku bisa mendatangkan 5-10 ribu penonton dalam event karnaval tahunan tersebut. Itu didukung dengan pemilihan rute yang banyak dilintasi wisatawan. Sehingga, banyak dari mereka yang akhirnya turun untuk melihat karnaval itu. Tentu itu akan berdampak terhadap ramainya jasa parkir dan UMKM.
“Kalau untuk tarif parkir sama. Sebesar Rp 5 ribu untuk sepeda motor dan Rp 10 ribu untuk mobil,” ungkapnya. Artinya, potensi pendapatan dari sektor parkir bisa menyentuh Rp 25-50 juta. Sementara, dia mengaku hanya menyediakan ruang untuk 200 tenant saja dalam pelaksanaan karnava beberapa waktu lalu itu. Tentu saja estimasi total omzet yang didapatkan tidak sebesar Desa Bulukerto.
“Rata-rat omzet tiap UMKM sama yakni Rp 400-500 ribu. Sehingga potensi total omzet UMKM di sana sebesar Rp 80-100 juta. Dari total itu, perputaran ekonomi di karnaval Desa Pendem diestimasikan mencapai Rp 425-550 juta dalam sehari. Seluruh pendapatan itu diserahkan kepada pemilik UMKM hingga penyedia jasa parkir. Sehingga, tidak ada dana yang disetorkan ke pemdes. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho