BATU, RADAR BATU - Anggaran sebesar Rp 21 miliar disiapkan Pemkot Batu dari hibah Local Service Delivery Program (LSDP) 2027 untuk memperkuat pengelolaan sampah. Dana tahap pertama dari pengajuan hibah sekitar Rp 150 miliar kepada Bank Dunia itu akan digunakan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPST 3R) di Kelurahan Sisir dan Temas, serta unit biodigester di Pasar Induk Among Tani.
Tantangannya, investasi tersebut harus diikuti sistem operasional yang mampu mengurangi timbunan sampah secara nyata. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menjelaskan, hibah LSDP dirancang berjalan selama empat tahun. Dana tidak dicairkan sekaligus, melainkan bertahap sesuai rencana pelaksanaan program.
Baca Juga: 589 Kasus TBC Ditemukan di Kota Batu, Kecamatan Batu Catat Angka Tertinggi
“Untuk tahap pertama tahun 2027 nanti, dana hibah yang kami eksekusi mencapai Rp 21 miliar,” ujar Dian. Anggaran itu dialokasikan untuk pembangunan fisik, peningkatan tata kelola, serta pemenuhan sarana dan prasarana pengolahan sampah. Tiga proyek yang disiapkan meliputi TPST 3R Sisir, TPST 3R Temas, dan unit biodigester di Pasar Induk.
Pembangunan fasilitas itu diarahkan untuk memperkuat pengolahan sampah sejak dari sumbernya. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada kapasitas pengolahan dan pemilahan sampah sebelum masuk fasilitas. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan operasional setelah pembangunan selesai.
Baca Juga: 125 Musisi Meriahkan HUT ke-25 Kota Batu, Event Berlanjut hingga Desember
Limbah Pasar Jadi Energi
Di Pasar Induk Among Tani, DLH menyiapkan teknologi biodigester untuk mengolah sampah organik menjadi biogas. Proses tersebut juga menghasilkan residu berupa material yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk. Dian mengatakan, biogas yang dihasilkan direncanakan untuk memasok kebutuhan energi di zona kuliner lantai tiga pasar.
Pemanfaatan itu diharapkan mengurangi volume sampah organik. Selain itu, juga diharapakan bisa menekan kebutuhan energi dari sumber lain. “Pemanfaatannya juga bisa langsung dilakukan oleh warga sekitar,” paparnya.
Baca Juga: Koleksi Perpusda Kota Batu Tembus 43.625 Eksemplar
Meski menawarkan manfaat ganda, keberhasilan biodigester bergantung pada konsistensi pasokan sampah organik yang terpilah dan kesesuaian kapasitas alat dengan volume limbah pasar. Pemkot juga perlu memastikan kualitas hasil olahan serta biaya operasionalnya. Tujuannya agar fasilitas tersebut tidak sekadar berfungsi saat awal peluncuran.
Selain membangun fasilitas baru, Pemkot Batu menyiapkan transformasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tlekung menjadi TPST pada 2028. Salah satu program yang direncanakan ialah landfill mining, yakni mengolah kembali timbunan sampah lama. Dian menyebut, timbunan sampah lama di TPA Tlekung diperkirakan mencapai 135 ribu ton.
Baca Juga: Bukan Cuma Olahraga, Ini Tren Hidup Sehat yang Diperhatikan Gen Z
Melalui program tersebut, Pemkot menargetkan pemulihan lahan seluas dua hektare. “Lahan yang berhasil dipulihkan nantinya akan dimanfaatkan sebagai kawasan perkebunan rakyat bagi warga Desa Tlekung,” tambahnya.
Pemkot juga merencanakan pembangunan hanggar baru untuk mendukung operasional fasilitas insinerator. Rangkaian proyek tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Namun, penambangan timbunan lama bukan pekerjaan sederhana. Komposisi sampah, kelayakan material hasil pemilahan, serta pengelolaan residu harus diperhitungkan agar pemulihan lahan tidak memindahkan persoalan lingkungan ke tempat lain.
Baca Juga: Bukan Cuma Olahraga, Ini Tren Hidup Sehat yang Diperhatikan Gen Z
Jangan Berhenti pada Infrastruktur
Statistisi Ahli Pertama Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Ahmad Azam Al Asy’raf mengatakan, LSDP mendorong pemerintah daerah membangun layanan persampahan yang terintegrasi. Menurut dia, pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada fasilitas pemerintah.
Sistem tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat dan berbagai sektor penghasil sampah. “Intinya pengelolaan sampah tidak dapat berdiri sendiri. Sebab, pengelolaannya membutuhkan keterhubungan antara masyarakat, pemerintah dan berbagai sektor penghasil sampah,” ujarnya.
Baca Juga: Kenapa Tanaman Terlihat Lebih Subur saat Musim Hujan?
Azam berharap pelaksanaan program di Kota Batu tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Fasilitas yang tersedia harus menjadi bagian dari layanan persampahan yang beroperasi secara konsisten dan berkelanjutan. “Kota Batu kami harapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi daerah lain dalam memperbaiki pelayanan persampahan,” tegasnya.
Bagi Kota Batu, kebutuhan tersebut semakin mendesak. Pasalnya, aktivitas pariwisata turut menambah beban persampahan. Pertumbuhan kunjungan wisatawan dan kegiatan ekonomi harus diimbangi kemampuan mengurangi, memilah, mengolah, dan menangani residu sampah.
Editor : Fajar Andre Setiawan