Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Salurkan Ratusan Juta Tiap Tahun Ke Panti Asuhan

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 8 Maret 2026 | 15:10 WIB

MISI SOSIAL: Anna Eva Arany berpose bersama barang dagangan di rumahnya beberapa waktu lalu.
MISI SOSIAL: Anna Eva Arany berpose bersama barang dagangan di rumahnya beberapa waktu lalu.

TANGAN Anna Eva Arany sudah cekatan memilah pakaian meski matahari di langit Perumahan Villa Bukit Tidar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang belum terlalu tinggi. Tumpukan pakaian itu kemudian dia pajang di sebuah gantungan besi lengkap dengan label di setiap bajunya. Kaos, dress, hingga baju bermerek mengisi lapak sederhananya.

Perempuan kelahiran Budapest itu melapak bukan hanya sekadar mengejar untung. Namun, itu menjadi jalan baginya mengejar akhirat. Sebab, hasil dari penjualan pakaian tersebut akan sepenuhnya ia donasikan kepada anak-anak yatim. “Awalnya hanya iseng menggalang donasi bersama ibu-ibu di perumahan. Dari situ jadi ide jualan untuk berbagi,” terangnya.

Perjalanan lapak yang ia namai Berbagi Barang Bekas (Brankas) itu sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu. Ramadan menyimpan memori perjuangan dalam merintis usaha tersebut. Pasalnya, Anna memulainya tepat di Bulan Suci ini. Sebelum fokus di dunia sosial, dia sempat berkali-kali mencoba peruntungan di dunia bisnis.

Namun, ia selalu menemui jalan buntu. Saat membuka usaha bakery, Anna pernah mengalami kecelakaan kerja yang membuat tangannya harus dioperasi. Kejadian itu sekaligus yang menggugahnya untuk mulai menggalang donasi. Dari situlah Anna menemukan dunianya dan jalan mengenal budaya Indonesia lebih jauh.

Salah satunya ketika harus mempelajari budaya tawar menawar saat melakukan transaksi dengan warga lokal. Di Hungaria, sistem tawar-menawar nyaris tidak dikenal. Maka, dia sempat terheran-heran ketika ada pembeli yang masih menawar harga baju agar bisa lebih murah lagi.

“Saya jelaskan pelan-pelan, Ibu beli ini tidak ada ruginya. Ibu dapat baju bagus, sekaligus sedekah untuk biaya sekolah anak panti," tuturnya sembari terkekeh. Bagi Anna, lapaknya juga media dakwah dan edukasi tentang indahnya berbagi.

Dalam setahun, keuntungannya bisa mencapai Rp100-150 juta. Nominal itu pula yang akhirnya mengalir ke rekening panti asuhan. “Saya pastikan tidak ada yang masuk ke rekening saya pribadi, semua untuk anak panti,” katanya.

Kisah perjalanan Anna menjadi seorang mualaf tak kalah menyentuh. Dia mengenal Islam justru saat bekerja di kapal pesiar. Sebelumnya, dia hanya mendengar citra buruk tentang Islam di Eropa. Namun, sikap santun dan cara pria muslim menghormati wanita di kapal tersebut mematahkan semua stigma yang pernah dia dengar.

Setelah memutuskan mualaf dan menikah, wanita kelahiran 1980 itu harus bersabar menanti selama 18 tahun untuk mendapatkan status WNI. Kini, dengan status kewarganegaraan yang sudah tetap, semangatnya untuk mengabdi di tanah air semakin membara. Meski anggota komunitasnya kini berkurang, dia tetap konsisten berjualan.

Ke depan, Anna memiliki mimpi besar untuk mendirikan rumah singgah bagi anak yatim yang sudah berusia 18 tahun. Cita-citanya lahir ketika melihat nasib anak-anak yang harus keluar panti karena alasan keterbatan umur.  "Bismillah, semoga suatu saat nanti jika masih diberi umur, mimpi itu bisa terwujud," pungkasnya. (*/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#anak yatim #hungaria #mualaf