BATU - Jatah Liquefied Petroleum Gas (LPG) tabung 3 kilogram untuk Kota Batu dipastikan menyusut tahun ini. Kuota elpiji bersubsidi itu turun 0,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunannya setara 108 metrik ton (MT). Meski demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu dan Pertamina menegaskan pengurangan tersebut tidak akan berdampak pada ketersediaan di tingkat masyarakat.
Analis Bagian Perekonomian dan SDA, Wolok, menyebutkan, pada 2025 Kota Batu menerima pasokan LPG 3 kg sebesar 12.648 MT. Tahun ini, alokasinya turun menjadi 12.540 MT. “Penurunannya relatif kecil, hanya sekitar 108 MT atau 0,8 persen. Kami nilai tidak signifikan dan masih dalam batas aman,” ujarnya.
Ia menegaskan, potensi kelangkaan tetap bisa ditekan melalui mekanisme extra dropping atau penambahan pasokan sewaktu-waktu. Terlebih, Kota Batu merupakan daerah tujuan wisata yang kerap mengalami lonjakan konsumsi LPG pada momen tertentu.
“Pada long weekend, libur panjang, atau hari besar keagamaan, kami bisa mengajukan tambahan pasokan. Koordinasi dengan Pertamina dan Hiswana Migas terus kami optimalkan,” jelasnya.
Menurut Wolok, skema tersebut selama ini cukup efektif meredam gejolak pasokan di lapangan. Pemkot Batu juga berkomitmen melakukan pemantauan distribusi secara berkala. Tujuannya agar tidak terjadi kekosongan di pangkalan maupun tingkat konsumen.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan penetapan kuota LPG sepenuhnya menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM.
“Kuota LPG 3 kg ditetapkan pemerintah pusat. Pertamina menjalankan penugasan sesuai alokasi yang diberikan,” katanya. Ia menjelaskan, penentuan kuota mempertimbangkan sejumlah faktor. Di antaranya kebutuhan riil daerah dan laporan pemerintah daerah.
Selain itu, juga dilatarbelakangi evaluasi tingkat serapan tahun sebelumnya. Penyesuaian tersebut dilakukan agar subsidi lebih tepat sasaran. Hingga saat ini, pantauan di sejumlah pangkalan LPG di wilayah Kota Batu menunjukkan distribusi masih berjalan normal. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian