Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siswa Terlalu Keras pada Diri Sendiri, Apa Dampaknya bagi Mental?

C
Penulis: Choirun Nisa❯
Seorang anak yang termenung di hadapannya terdapat buku yang menumpuk (Sumber: REFOIndonesia)
Seorang anak yang termenung di hadapannya terdapat buku yang menumpuk (Sumber: REFOIndonesia)

Advertisement

BATU, RADAR BATU – Berusaha mendapatkan nilai terbaik tentu merupakan hal yang positif. Namun, ketika siswa terus-menerus menuntut diri untuk sempurna, merasa bersalah saat beristirahat, atau menganggap dirinya gagal karena tidak mencapai target tertentu, kondisi tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental.

Fenomena ini semakin banyak ditemukan di kalangan pelajar. Di tengah persaingan akademik, tuntutan prestasi, serta keinginan untuk memenuhi harapan orang tua maupun lingkungan, sebagian siswa justru menjadi terlalu keras terhadap dirinya sendiri.

Tekanan Berlebihan Bisa Menimbulkan Kelelahan Mental

Advertisement

Dilansir dari laman Scholars Education, belajar secara berlebihan atau overstudying tidak selalu menghasilkan prestasi yang lebih baik. Sebaliknya, tekanan yang terus-menerus dapat membuat siswa sulit berkonsentrasi dan kesulitan menyerap informasi baru.

Akibatnya, siswa yang menghabiskan banyak waktu untuk belajar justru dapat mengalami penurunan performa akademik. Mereka menjadi mudah terdistraksi, sulit fokus di kelas, dan tidak maksimal saat mengerjakan tugas maupun ujian. Kebiasaan memaksa diri untuk terus belajar sering membuat siswa mengorbankan waktu istirahat. Padahal, kurang tidur dapat mengganggu kemampuan otak dalam memproses informasi dan meningkatkan risiko stres.

Advertisement

Tidak hanya berdampak pada pikiran, tekanan berlebih juga dapat memunculkan keluhan fisik seperti sakit kepala, nyeri perut, hingga kelelahan berkepanjangan.

Prestasi Bisa Berubah Menjadi Beban

Laman Smile Consulting Indonesia menjelaskan bahwa prestasi seharusnya menjadi sarana untuk berkembang. Namun, prestasi dapat berubah menjadi beban ketika didorong oleh tuntutan eksternal, seperti takut mengecewakan orang tua, takut dikritik, atau ingin mendapat pengakuan dari orang lain.

Siswa yang terlalu keras pada dirinya sendiri sering kali mengaitkan harga dirinya dengan hasil yang diperoleh. Mereka merasa berharga hanya ketika berhasil dan merasa gagal ketika tidak mencapai target tertentu.

Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memunculkan kecemasan, sulit rileks, mudah marah, serta perasaan bersalah ketika tidak produktif. Sebagian siswa juga menjadi takut melakukan kesalahan sehingga enggan mencoba hal-hal baru. Tekanan yang terus berlangsung dapat menyebabkan burnout atau kelelahan mental akibat tuntutan yang berkepanjangan.

Advertisement

Artikel Terkait

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Dana PIP Rp 3,3 Miliar Disalurkan untuk 8.283 Siswa Kota Batu, Prioritas Desil 1-4

Kota Batu siapkan Rp3,3 miliar dana PIP 2026 untuk 8.283 siswa, utamakan peserta didik keluarga Desil 1–4 DTSEN.

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Sering Main TikTok? Ini Dampak Buruk Video Pendek bagi Fokus Belajar Siswa

Kebiasaan mengonsumsi konten digital berdurasi singkat di media sosial dinilai memengaruhi kemampuan fokus siswa saat belajar.

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Ini Alasan Buku Fiksi Bisa Mengasah Empati Siswa

Berbeda dengan aktivitas menonton film yang menyajikan visualisasi jadi, fiksi membangun simulasi mental yang lebih kompleks.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer