Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Waspadai Potensi El Nino

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 5 Maret 2026 | 17:01 WIB

 

Tangkapan layar Prakirawan BMKG Ranika Asti menyampaikan informasi cuaca yang dipantau melalui kanal YouTube BMKG di Jakarta, Rabu (21/1). (Tri Meilani Ameliya/Antara)
Tangkapan layar Prakirawan BMKG Ranika Asti menyampaikan informasi cuaca yang dipantau melalui kanal YouTube BMKG di Jakarta, Rabu (21/1). (Tri Meilani Ameliya/Antara)

Radar Batu - Indonesia diperkirakan akan menghadapi musim kemarau lebih cepat pada tahun 2026. Peringatan tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan perkembangan kondisi iklim global dan regional terbaru.

Perubahan ini dipicu oleh berakhirnya fase La Nina Lemah pada Februari lalu. Saat ini kondisi iklim telah memasuki fase Netral dan diprediksi berpotensi bergerak menuju fase El Nino pada pertengahan tahun.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pemantauan anomali iklim di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28. Kondisi netral tersebut diperkirakan akan bertahan hingga Juni 2026.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan pada semester kedua tahun ini. Terdapat peluang sekitar 50–60 persen munculnya El Nino dengan kategori Lemah hingga Moderat yang berpotensi meningkatkan suhu udara serta menurunkan curah hujan secara signifikan.

"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun," ujar Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3).

Daerah yang Diprediksi Memasuki Kemarau Mulai April

BMKG mencatat perubahan arah angin dari Monsun Asia menuju Monsun Australia menjadi tanda dimulainya periode kemarau. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) diperkirakan mulai memasuki musim kering pada April 2026.

Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa sebanyak 184 ZOM diperkirakan akan memasuki musim kemarau pada Mei, sementara 163 ZOM lainnya menyusul pada Juni. Kondisi ini menunjukkan hampir setengah wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dari biasanya.

"Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua," terangnya.

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus 2026

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun ini akan berlangsung pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.

Karakter musim kemarau pada 2026 juga diproyeksikan berada pada kategori Bawah Normal. Artinya, kondisi kering yang terjadi berpotensi lebih parah dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya. Sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia bahkan diperkirakan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," tambah Faisal.

BMKG Imbau Antisipasi Kekeringan dan Karhutla

Menghadapi potensi kekeringan tersebut, BMKG meminta berbagai sektor segera melakukan langkah antisipasi. Para petani diimbau menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air.

Selain itu, sektor energi juga diminta memperhatikan ketersediaan air, terutama untuk operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

"Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi," tegas Faisal.

Di samping potensi kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan kualitas udara juga diperkirakan meningkat. Karena itu, pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

"BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia," imbuhnya.

 

Penulis: Qonita Naila Syahida

Sumber: https://jawapos.com/nasional/2603040349/bmkg-beri-peringatan-musim-kemarau-2026-datang-lebih-awal-cek-wilayahmu

 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#cuaca ekstrem #kemarau #perubahan cuaca #cuaca