Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Baloga Jadikan Hidroponik Senjata Edukasi Ekowisata

Rori Dinanda Bestari • Sabtu, 9 Mei 2026 | 17:00 WIB
AGRIKULTUR: Salah seorang wisatawan mengamati hasil pertanian modern lewat konsep hidroponik di Batu Love Garden (Baloga) beberapa hari lalu.
AGRIKULTUR: Salah seorang wisatawan mengamati hasil pertanian modern lewat konsep hidroponik di Batu Love Garden (Baloga) beberapa hari lalu.

 

BATU - Krisis minat generasi muda terhadap sektor agrikultur membuat Batu Love Garden (Baloga) Jawa Timur Park Group merombak wajah pertanian menjadi lebih relevan dan modern. Stigma bertani yang identik dengan lumpur dan kotor kini tampil beda lewat ekowisata di sana.

Baloga menyodorkan instalasi hidroponik sebagai menu utama edukasi bagi wisatawan, khususnya kalangan pelajar. Langkah ini memperkaya portofolio wisata edukasi di Baloga. Jika sebelumnya mereka mengandalkan simulasi pembuatan susu cokelat, kini pertanian modern menjadi komoditas baru.

BACA JUGA: Pelajar Semakin Bergantung pada Gadget saat Belajar, Pengaturan Waktu Dinilai Penting

Konsepnya pragmatis, yakni pengunjung tidak hanya dijejali teori usang di dalam kelas, melainkan dihadapkan langsung pada lahan tanpa tanah. Hidroponik memanipulasi sirkulasi air bernutrisi tinggi sebagai substitusi tanah. Hasilnya diklaim lebih terukur. Residu kimia ditekan, sementara kualitas mineral tanaman tetap terjaga.

Di lapangan, implementasi ini dipamerkan secara riil. Pengunjung dapat melihat langsung anatomi tanaman cabai yang sukses berbuah tanpa memijak tanah. Direktur Baloga Isha Mey mengatakan ada berbagai teknik penanaman secara transparan. Sejumlah instalasi rumit disederhanakan agar ramah bagi pelajar.

BACA JUGA: Kebiasaan Membuka Ponsel Sebelum Tidur Dinilai Memengaruhi Kualitas Istirahat Pelajar

Ada teknik vertikultur untuk menyiasati lahan sempit. Lalu, deep flow technique yang mengandalkan genangan air beraliran lambat. Pengunjung juga disuguhi aplikasi dutch bucket, akuaponik, rakit apung, aeroponik, hingga nutrient film technique (NFT). Semuanya berbuah hasil konkret, seperti suburnya hamparan selada dan seledri.

“Baloga membanderol paket edukasi ini seharga Rp 25 ribu per kepala,” ujar Isha. Syaratnya, pendaftar harus berupa rombongan dengan kuota minimal 20 orang. Rombongan pelajar akan mendapat akses tiga modul edukasi sekaligus. Selain hidroponik, mereka bebas memilih opsi tanam bunga, budidaya stroberi, turun ke sawah, atau praktik mencangkok.

BACA JUGA: Pelajar Mulai Memanfaatkan Konten Edukasi Digital sebagai Alternatif Belajar di Luar Kelas

Fasilitasnya komprehensif, mulai dari lembar kerja siswa, pemandu wisata, permainan interaktif, hingga pendampingan dari edukator profesional. Isha menyebut manuver ini dirancang untuk mendekatkan ketahanan pangan pada generasi muda. “Kami ingin mengenalkan pertanian modern dengan cara yang mudah dipahami,” tandasnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Baloga #JTP Group #wisata #hidroponik