Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jelang Waisak, Umat Lintas Agama di Kota Batu Ikuti Pindapata

R
POTRET TOLERANSI: Beberapa umat Buddha dan warga setempat menggelar pindapata di Vihara Dhammadipa Amara, Kecamatan Junrejo kemarin (10/5).
POTRET TOLERANSI: Beberapa umat Buddha dan warga setempat menggelar pindapata di Vihara Dhammadipa Amara, Kecamatan Junrejo kemarin (10/5).

Advertisement

 

JUNREJO, RADAR BATU - Perayaan hari besar keagamaan di Kota Batu kini tak lagi sekadar ritual tertutup di balik tembok rumah ibadah. Menjelang Hari Raya Waisak 2570 BE, ratusan umat lintas agama bersama Wanita Theravada Indonesia (Wandani) Malang Raya menggelar aksi penuangan eco enzyme ke sungai dan upacara pindapata di Vihara Dhammadipa Amara, Kecamatan Junrejo kemarin (10/5).

Di sepanjang jalur menuju Vihara Dhammadipa Amara, ritual pindapata alias tradisi pemberian dana makanan bagi para bikkhu berubah menjadi etalase toleransi. Bukan hanya umat Buddha, warga lintas agama hingga ibu-ibu PKK setempat tampak antusias berjajar di pinggir jalan menyodorkan bungkusan makanan dan buah-buahan.

“Pindapata sebenarnya adalah cara umat Buddha melatih kebajikan. Namun, keterlibatan warga lintas agama adalah potret persaudaraan yang luar biasa,” ujar Ketua Wandani Indonesia Malang Raya, Lusiana Dewi.

Sebelum prosesi pindapata dimulai, gerakan pemurnian air dilakukan di lima titik strategis. Mulai dari sungai di Jembatan Watu Anyar Sarimun, Warung Ijo, hingga kawasan Beji. Penuangan cairan organik ini merupakan bagian dari gerakan nasional untuk menetralisasi limbah cair yang selama ini membebani ekosistem sungai di Kota Batu.

Advertisement

Sedikitnya 170 peserta terlibat aktif dalam aksi ini. Mereka mencakup perangkat desa, komunitas pegiat lingkungan, hingga perwakilan Pembimas Buddha Kemenag Jatim. Keterlibatan berbagai elemen ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan mampu menjadi titik temu kepentingan lintas sektoral yang efektif.

Lusiana menekankan bahwa aksi ini mengemban misi edukasi yang mendesak. Menurutnya, sungai selama ini sering kali hanya dianggap sebagai tempat sampah bagi limbah domestik dan industri. Padahal, sungai adalah aset publik yang vital bagi keberlanjutan pariwisata dan kehidupan warga.

“Kami ingin menyadarkan masyarakat bahwa ekosistem sungai bisa kembali pulih jika kita rutin melakukan intervensi organik. Minimal sebulan sekali,” pungkas Lusiana. Bagi warga Batu, perayaan Waisak kali ini bukan sekadar mengejar kebajikan personal, melainkan upaya kolektif untuk memulihkan martabat alam. (ori/dre)

Advertisement

Artikel Terkait

Sosiologi Jadi Mapel Favorit dalam TKA

Sosiologi Jadi Mapel Favorit dalam TKA

Sosiologi jadi mapel favorit siswa SMAN 1 Batu dalam Tes Kemampuan Akademik.

Museum Angkut Kota Batu Kenalkan Otomotif Lewat Mekanik Cilik

Museum Angkut Kota Batu Kenalkan Otomotif Lewat Mekanik Cilik

Museum Angkut kenalkan dunia otomotif ke anak lewat wahana mekanik cilik.

Liburan ke Kota Batu? Ini 5 Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba 

Liburan ke Kota Batu? Ini 5 Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba 

Kota Batu menawarkan beragam aktivitas liburan, mulai dari mencoba wahana permainan, mengenal satwa, hingga menikmati wisata alam.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer