MALANG KOTA - Penataan fasilitas publik yang tak terkelola justru berbalik menjadi masalah. Kandang sampah botol plastik di kawasan Kajoetangan Heritage dikeluhkan pengunjung karena dipenuhi tumpukan sampah dan mengganggu estetika.
Di sepanjang jalur pedestrian, tumpukan botol plastik, gelas minuman, hingga kantong kresek terlihat menumpuk di dalam keranjang kawat. Pemandangan ini kontras dengan citra kawasan heritage yang mengusung nuansa bangunan bersejarah.
Ahmad Fauzi, wisatawan asal Pasuruan mengaku kecewa. Ia menilai keberadaan fasilitas tersebut justru merusak pengalaman berkunjung. “Sudah beberapa kali ke sini, tapi sampahnya tidak pernah berkurang. Malah makin banyak,” ujarnya.
Ia menilai persoalan utama terletak pada minimnya edukasi. Fasilitas yang seharusnya khusus untuk botol plastik tidak dilengkapi penanda yang jelas. Akibatnya, pengunjung mencampur berbagai jenis sampah. “Tidak ada label atau petunjuk. Jadi dianggap tempat sampah biasa,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lokal. Dedi Hermawan, warga Kelurahan Kauman tersebut menyebut pengelolaan fasilitas publik masih setengah jalan. “Ide daur ulangnya bagus. Tapi kalau tidak rutin diangkut, malah jadi sarang penyakit dan merusak pemandangan,” tegasnya.
Menurut dia, sebagai destinasi wisata unggulan, kebersihan kawasan harus dijaga secara konsisten. Tidak cukup hanya menyediakan fasilitas tanpa memastikan perawatan dan pengawasan.
Warga berharap ada perbaikan segera. Mulai dari penambahan papan informasi, pemilahan sampah yang jelas, hingga percepatan jadwal pengangkutan agar fasilitas berfungsi sesuai tujuan awal.
Editor : Fajar Andre Setiawan