BATU, RADAR BATU - Pengembangan Smart Integrated Farming (SIF) di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, diarahkan untuk memperbesar nilai ekonomi hasil pertanian melalui pengolahan produk dan pemanfaatan limbah.
Proyek percontohan seluas 2,59 hektare itu dirancang menghubungkan kegiatan budidaya, peternakan, pengolahan, hingga pemasaran dalam satu ekosistem.
Baca Juga: Kerugian Karhutla Tak Berakhir Saat Api Padam, Pemulihan Hutan Bisa 100 Tahun
Ketua Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengatakan, praktik pertanian terintegrasi sebenarnya sudah dijalankan sejumlah petani lokal. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan ternak.
Sementara itu, kotoran ternak dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi pupuk organik. Pola tersebut memungkinkan sisa dari satu kegiatan usaha dimanfaatkan sebagai bahan pendukung kegiatan lainnya.
Baca Juga: Penanjakan Bromo Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Patuhi Aturan Ini
Namun, penerapan secara individual masih memiliki keterbatasan, terutama dari sisi volume produksi. Melalui SIF, pola tersebut direncanakan dikembangkan dalam skala yang lebih besar agar memiliki dukungan pengelolaan dan jaringan pemasaran yang lebih terstruktur.
“Tapi kalau secara personal kuantitasnya masih terbatas. Untuk itu, kami buat versi lebih besarnya,” terang Hardi.
Baca Juga: Ganja 5 Kg Dikirim lewat Ekspedisi
Selain mengintegrasikan budidaya dan peternakan, SIF juga dirancang mendorong hilirisasi hasil pertanian. Komoditas lokal tidak hanya dipasarkan dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk turunan, seperti sari buah dan berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pengolahan tersebut diharapkan memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal. Petani dan pelaku usaha juga berpeluang mengembangkan jenis produk yang memiliki daya jual lebih tinggi dibandingkan bahan baku yang belum diolah.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi 6 Kali, Kolom Abu Capai 1.200 Meter pada Jumat Pagi
Meski demikian, hilirisasi membutuhkan perhitungan usaha yang matang. Ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, standar mutu, kemasan, perizinan, dan akses pasar perlu dipersiapkan agar produk turunan dapat dipasarkan secara berkelanjutan.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, pembangunan SIF dilakukan bertahap hingga 2030. Pada 2026, Pemkot Batu memfokuskan kegiatan pada finalisasi konsep, riset, dan penyusunan rancangan induk. Penyiapan infrastruktur, kelembagaan, standar operasional prosedur (SOP), dan sumber daya manusia dijadwalkan pada 2027.
Baca Juga: Penggemar Film Ernest Prakasa Merapat! Dibintangi Sheila Dara, Teka Teki Tika akan Masuk Netflix
Uji coba produksi ditargetkan berlangsung pada 2028. Setelah itu, pengembangan akan memasuki fase operasional penuh, hilirisasi produk, dan perluasan jejaring bisnis pada 2029-2030.
Pengembangan tersebut juga diharapkan mendorong regenerasi petani. Pemanfaatan teknologi dan pembukaan peluang usaha dari pengolahan hasil pertanian menjadi salah satu pendekatan untuk menarik minat kalangan milenial dan Generasi Z.
Baca Juga: Jakarta Film Week 2026 Day 3 Diselenggarakan Hari Ini, Berikut Jadwal Lengkapnya
Namun, keberhasilan SIF tidak cukup diukur dari terbangunnya fasilitas atau bertambahnya produk olahan. Nilai tambah yang diterima petani, keberlanjutan usaha pengolahan, pengurangan limbah, dan kepastian pemasaran juga perlu menjadi tolok ukur.
Dengan pendekatan tersebut, Giripurno diproyeksikan menjadi model percontohan bagi pengembangan pertanian terintegrasi di desa dan kelurahan lain di Kota Batu.
Editor : Fajar Andre Setiawan