Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pedagang Rugi karena Ikan Mati akibat Pemadaman Listrik

Fajar Andre Setiawan • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:01 WIB
RUGI: Pemilik toko ikan Sunscape tunjukkan beberapa ikan ditokonya yang diungsikan ketika pemadaman serentak sabtu lalu (20/6).
RUGI: Pemilik toko ikan Sunscape tunjukkan beberapa ikan ditokonya yang diungsikan ketika pemadaman serentak sabtu lalu (20/6).

BATU, RADAR BATU - Pemadaman listrik selama empat jam di kawasan Jalan Dewi Sartika, Kota Batu, Sabtu lalu (20/6) membuat pelaku usaha ikan hias merugi. Belasan ikan mati akibat pasokan oksigen pada akuarium terhenti. Hal itu memaksa pedagang melakukan evakuasi darurat terhadap ratusan ikan lainnya.

Kerugian dialami Teten Syaihur, pemilik Kimi Aquatic. Sedikitnya 10 hingga 15 ekor ikan mati akibat matinya sistem aerasi saat Listrik padam mulai pukul 11.00- 15.00. Di antara ikan yang mati, terdapat lima ekor koki dengan nilai jual sekitar Rp 15 ribu per ekor. Total kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp 100 ribu.

Angka itu belum termasuk tambahan biaya operasional untuk menghidupkan genset. “Begitu mendapat kabar Listrik padam, saya langsung ke toko untuk menyalakan genset. Tapi genset sempat bermasalah sehingga baru bisa beroperasi setelah lebih dari satu jam,” ujarnya.

Baca Juga: Perlahan Pulih, PLN Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik Massal di Sumatera

Menurut Teten, Sebagian besar koleksi ikan di tokonya sangat bergantung pada pasokan oksigen dari aerator. Dalam kondisi normal, ikan hanya mampu bertahan sekitar satu jam setelah aliran listrik terputus. “Kalau terlalu lama tanpa oksigen, risikonya langsung ke kematian ikan,” katanya.

Situasi berbeda dialami Surya Adi, pemilik Sunscape Aquatic. Begitu mengetahui listrik padam, ia segera melakukan evakuasi terhadap ikan-ikan yang dinilai sensitive terhadap penurunan kadar oksigen.

Ratusan ikan dipindahkan ke dalam 10 kantong plastic berisi oksigen murni. Ikan berukuran besar dikemas satu per satu untuk mengurangi stres selama proses penyelamatan. “Kalau di akuarium tanpa aerator biasanya hanya kuat sekitar tiga jam. Kalau dimasukkan ke kantong beroksigen bisa bertahan lebih lama,” jelasnya.

Evakuasi dilakukan terhadap sejumlah jenis ikan bernilai ekonomi tinggi seperti koi, glofish, neon tetra, Sumatra balon, hingga beberapa varietas ikan hias impor lainnya. Sementara jenis yang lebih tahan seperti cupang dan guppy tetap dibiarkan berada di akuarium. Langkah cepat tersebut membuat seluruh koleksi ikan miliknya selamat tanpa kematian.

Baca Juga: Dua PLTU Besar Alami Gangguan, Dirut PLN Beberkan Pemicu Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Meski demikian, Surya mengkritik pola pemberitahuan pemadaman yang dinilai kurang jelas. Menurut dia, pelaku usaha membutuhkan informasi lebih awal agar bisa menyiapkan Langkah antisipasi, termasuk menyalakan genset atau memindahkan komoditas yang rentan. “Kami tidak pernah terlambat membayar listrik. Kalau memang ada pemadaman, setidaknya diberi informasi lebih awal supaya pelaku usaha bisa bersiap,” ujarnya.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pemadaman listrik tidak hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat,tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi pelaku usaha kecil. Terutama usaha yang bergantung penuh pada pasokan listrik seperti toko ikan hias, penyimpanan makanan beku, hingga sektor jasa lainnya.

Karena itu, para pelaku usaha berharap ada system pemberitahuan yang lebih terukur dan mudah diakses. Dengan begitu, kerugian akibat pemadaman mendadak dapat diminimalkan. Beberapa pedagang bahkan mulai mempertimbangkan investasi genset cadangan. Tujuannya sebagai Langkah antisipasi menghadapi kejadian serupa di masa mendatang. (kr2/dre)

Editor : A. Nugroho
#Pemadaman listrik #Belasan ikan mati #usaha ikan hias merugi #kota batu