BATU, RADAR BATU - Sengkarut pengelolaan sampah di Pasar Induk Among Tani perlahan menemui titik terang. Tumpukan sampah di TPS Pasar Induk kini mulai melandai berkat intervensi logistik dan percepatan ritme pengangkutan. Sampah kini diangkut lima hari sekali. Itulah yang membuat area TPS steril dari luapan limbah ke area publik.
Puncak sengkarut tata kelola sampah Pasar Induk sempat memuncak pada 2024. Kala itu, manajemen pembuangan lumpuh total. Pengosongan TPS hanya berlangsung dua bulan sekali. Imbasnya, volume sampah meluber hingga memakan separo badan jalan utama. Warga permukiman pun meradang akibat paparan polusi bau yang menyengat tajam.
BACA JUGA: Gaji Istri Lebih Besar dari Suami, Apakah Bisa Menjadi Masalah dalam Rumah Tangga?
Titik balik terjadi sejak Januari tahun ini. Grafik volume tumpukan mulai menyusut drastis. Faisal Bakti Hardi, pemilik kios yang lokasinya tak jauh dari TPS mengonfirmasi hal tersebut. Dia menyebut puncak penyelesaian masalah tumpukan sampah terjadi pada Mei lalu. “Saat ini memang sudah tidak ada lagi tumpukan sampah yang tumpah ke jalan,” tegasnya.
Menurut Faisal, pemulihan dipicu dua langkah taktis. Pertama, suntikan dua armada truk pengangkut baru. Dengan begitu, ritme pengangkutan bisa dipercepat menjadi lima hari sekali. Kedua, perbaikan total infrastruktur jalan di depan TPS. Hal itu membuat genangan air lindi tak lagi mengendap di aspal, melainkan mengalir mulus ke saluran drainase.
BACA JUGA: Apa Itu IPK, IPS, dan Transkrip Nilai? Ini Perbedaannya
Selain itu, para pedagang Pasar Pagi juga telah berinisiatif memobilisasi limbah mereka secara mandiri. Mereka langsung mengangkut sampah menuju TPA Temas. Kendati demikian, tukang ojek pangkalan Pasar Induk, Paijo menyebut standar sanitasi turut diperketat guna menekan polusi udara.
Cairan kimia penghilang bau disemprotkan secara persisten setiap tiga hari sekali. Paijo menyebut ada dua material biang keladi bau busuk, yakni tangkai pisang dan sabut kelapa. “Kedua limbah organik ini menyerap air hujan dan mempercepat proses pembusukan,” tandasnya. (Ramyzard Rafsanjani/dre)