Brokoli menjadi salah satu produk hortikultura andalan Kota Batu. Di balik visual dan kemasannya yang tampak premium, kembang hijau itu sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia.
RORI DINANDA BESTARI
Hamparan hijau sayuran membentang rapi. Di antaranya, brokoli berwarna hijau pekat tumbuh padat. Sekilas tampak menjanjikan, segar, dan bernilai tinggi di pasar. Namun, di balik itu, tanah tempatnya tumbuh menyimpan cerita lain.
Cerita tentang kelelahan yang tak terlihat. Petani kini tak lagi bergantung pada pupuk organik. Mereka beralih pada pupuk kimia. Dosisnya terus meningkat setiap musim. Junaidi merekam semua perubahan itu.
Sejak 2005, ia meninggalkan apel dan beralih ke sayuran. Brokoli menjadi andalannya. Ia menyebut kualitas brokoli Bumiaji unggul lantaran padat liat. Lebih renyah dibanding brokoli dari dataran rendah.
BACA JUGA: Sampah Liar Jadi Atensi Menteri Lingkungan Hidup
Namun kualitas itu datang dengan harga mahal. Bukan hanya soal biaya perawatan, tetapi juga kesehatan tanah. “Kalau dosis pupuk tidak ditambah, tanaman tidak jadi,” ujarnya singkat.
Kalimat itu sederhana. Namun, menyimpan masalah panjang. Pupuk NPK dan obat-obatan kini jadi kebutuhan utama. Biaya produksi melonjak. Petani tak punya banyak pilihan. Pupuk subsidi pun kian sulit dijangkau.
Petani mandiri seperti Junaidi harus membeli sendiri. Harga lebih tinggi. Di sisi lain, pasar memberi sedikit ruang bernapas. Harga brokoli relatif stabil di angka sekitar Rp15 ribu per kilogram. Jauh lebih tenang dibanding wortel atau kentang.
Komoditas itu sering naik turun. Sulit diprediksi. Junaidi memilih strategi aman. Ia memakai sistem tebasan. Panen dijual dalam jumlah besar sekaligus. Dari lahannya, ia bisa menghasilkan hingga 12 ton brokoli.
BACA JUGA: Pakar Sebut Lemahnya Interaksi Sosial Picu Krisis Kesehatan Mental
Tak hanya itu, ia juga mengirim kentang dan sayur putih. Pasar utama tetap sama, yakni kota-kota besar seperti Surabaya. Permintaan terus ada. Namun, tantangan lain datang dari cuaca. Musim hujan jadi ancaman. Kelembapan tinggi memicu pembusukan.
Jika terlambat ditangani, maka panen bisa gagal. Obat tambahan harus diberikan. Tentu saja itu membuat biaya perawatan kembali membengkak. Di tengah tekanan itu, petani terus bertahan. Mereka menyeimbangkan antara biaya dan hasil serta antara risiko dan harapan.
Fenomena ini tak berdiri sendiri. Ekspansi sayuran terjadi besar-besaran, termasuk brokoli. Data Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat lonjakan signifikan. Luas panen meningkat tajam. Produksi ikut melonjak.
Tahun 2023, luas panen sekitar 215 hektare. Setahun kemudian naik menjadi 337 hektare. Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mengungkapkan tren kenaikan luas panen memang menunjukkan performa positif di sektor hortikultura.
BACA JUGA: 12 Pedagang Pasar Induk Among Tani Kota Batu Dipanggil Kejari atas Dugaan Kasus Korupsi
Untuk kembang kol misalnya, luas panen diproyeksikan mencapai 413,85 hektare pada 2025, naik dari tahun sebelumnya yang berada di angka 398,86 hektare. “Kecamatan Bumiaji masih jadi sentra utama dengan luas lahan 228,21 hektar untuk kembang kol," jelasnya.
Angka itu terlihat menggembirakan, tapi menyimpan ironi. Sayuran tumbuh, tapi pel justru menghilang. Petani mulai meninggalkan tanaman lama. Sebab, masa panen sayuran lebih cepat. Uang berputar lebih singkat. Pilihan itu rasional bagi petani.
Sayangnya, plihan itu punya dampak jangka panjang yang negatif. Pasalnya, tanah bekerja lebih keras. Dosis kimia meningkat dan kesuburan alami menurun. Jika dibiarkan, tanah bisa kehilangan daya hidupnya.
Produktivitas mungkin naik hari ini.Tapi bisa runtuh di masa depan. Kota Batu kini berada di persimpangan antara produktivitas dan keberlanjutan serta antara keuntungan cepat dan risiko ekologis. Brokoli mungkin masih hijau hari ini, tapi tanah di bawahnya perlahan memucat. (*/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan