BATU, RADAR BATU – Pelajar di era digital kini menghadapi tantangan besar berupa digital fatigue atau kelelahan digital yang berpotensi menurunkan produktivitas belajar mereka.
Fenomena ini memerlukan penanganan tepat melalui batasan penggunaan layar demi menjaga kesehatan fisik, mental, serta keberhasilan akademik yang berkelanjutan.
Metode 20-20-20 dan Fitur Fokus
Paparan cahaya biru dari layar gawai secara terus-menerus memicu mata lelah dan sakit kepala pada pelajar. Guna mengembalikan fokus pikiran, terapkan metode 20-20-20 dengan mengalihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik setelah 20 menit menatap layar.
Baca Juga: Melongok Rentang Nilai TKA Jalur Prestasi Akademik SMA Negeri di Kota Batu
Notifikasi media sosial sering menjadi gangguan utama saat pelajar sedang menyelesaikan tugas sekolah. Mengaktifkan fitur Focus Mode atau Do Not Disturb efektif menyaring gangguan dan menciptakan batasan antara ruang belajar dan hiburan.
Pemanfaatan AI dan Catatan Analog
Pelajar dapat mengoptimalkan asisten digital atau fitur peringatan waktu layar untuk membagi waktu kerja ke dalam blok-blok kecil. Penggunaan teknologi AI dalam mengatur ulang referensi juga terbukti mempersingkat waktu operasional di depan layar gawai.
Selain itu, aktivitas menulis tangan pada buku catatan fisik untuk merancang kerangka tulisan atau jadwal harian dapat merangsang kreativitas motorik. Strategi analog ini sekaligus memberikan jeda bagi pelajar dari paparan radiasi layar gawai.
Baca Juga: Pastikan Gratis, Dinas Pendidikan Minta Orang Tua Siswa di Kota Batu Tolak Pungli SPMB
Penerapan seluruh strategi tersebut secara konsisten membantu pelajar mengelola energi mental di tengah padatnya arus tugas digital. Menjaga batasan waktu layar secara disiplin menjadi kunci utama untuk mewujudkan keberhasilan akademik yang sehat.
Editor : Aditya Novrian