Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Fenomena Belajar Tapi Cepat Lupa, Ini Cara Mengatasinya

Choirun Nisa • Senin, 11 Mei 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi seorang siswa yang sering merasa lupa (Sumber: Disdikpora Buleleng)
Ilustrasi seorang siswa yang sering merasa lupa (Sumber: Disdikpora Buleleng)

BATU, RADAR BATU – Fenomena siswa yang merasa sudah belajar tetapi cepat lupa masih sering terjadi, terutama saat menghadapi ujian atau tugas sekolah. Kondisi ini membuat banyak pelajar kesulitan mengingat materi meskipun sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk belajar.

Kurang Memahami Materi Jadi Salah Satu Penyebab
Dilansir dari Aku Pintar, lupa terhadap materi pelajaran sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ada beberapa faktor yang membuat siswa lebih mudah melupakan informasi yang sudah dipelajari.

Salah satu penyebab utama adalah kurang memahami materi secara mendalam. Siswa yang hanya menghafal tanpa memahami konsep disebut lebih mudah melupakan pelajaran dibanding siswa yang benar-benar memahami isi materi.

Selain itu, metode belajar yang kurang sesuai juga memengaruhi daya ingat. Setiap siswa memiliki gaya belajar berbeda, seperti visual, auditori, maupun kinestetik. Penggunaan metode belajar yang tidak sesuai dinilai membuat informasi lebih sulit diserap otak.

Kurang tidur juga disebut menjadi faktor penting yang memengaruhi kemampuan mengingat. Kebiasaan begadang saat belajar menjelang ujian dapat membuat fokus dan konsentrasi menurun sehingga materi sulit tersimpan dalam ingatan jangka panjang.

Belajar terlalu banyak dalam waktu singkat atau sistem kebut semalam (SKS) juga dianggap kurang efektif. Otak dinilai kesulitan memproses terlalu banyak informasi sekaligus dalam waktu terbatas.

Baca Juga: Kebiasaan Membuka Ponsel Sebelum Tidur Dinilai Memengaruhi Kualitas Istirahat Pelajar

Kurang Praktik dan Pengulangan Membuat Materi Mudah Hilang
Laman Dinus Solo menyebutkan bahwa banyak orang hanya belajar sekali tanpa melakukan pengulangan. Padahal, penelitian menunjukkan seseorang dapat melupakan sebagian besar informasi dalam waktu 24 jam apabila materi tidak diulang kembali.

Selain itu, materi yang tidak dipraktikkan juga lebih mudah dilupakan. Belajar hanya melalui teori tanpa latihan langsung membuat pengetahuan sulit berubah menjadi kebiasaan atau keterampilan yang melekat.

Kebiasaan terlalu banyak menerima informasi tanpa mengolah kembali materi juga disebut membuat otak menjadi pasif. Misalnya, hanya menonton video pembelajaran tanpa mencoba menjelaskan ulang isi materi.

Pengulangan dan Teknik Belajar Efektif Jadi Solusi
Untuk mengatasi kebiasaan cepat lupa, siswa dianjurkan melakukan pengulangan materi secara berkala atau spaced repetition. Metode ini dilakukan dengan mengulang pelajaran dalam jarak waktu tertentu agar ingatan lebih kuat.

Baca Juga: Pelajar Mulai Memanfaatkan Konten Edukasi Digital sebagai Alternatif Belajar di Luar Kelas

Selain itu, siswa juga disarankan menggunakan teknik active recall, yaitu mencoba mengingat kembali materi tanpa melihat catatan. Cara ini dinilai membantu otak lebih aktif dalam menyimpan informasi.

Belajar dalam durasi singkat tetapi fokus juga dianggap lebih efektif dibanding belajar terlalu lama tanpa jeda. Teknik Pomodoro, misalnya, dilakukan dengan belajar sekitar 25 menit lalu diselingi istirahat singkat.

Siswa juga dianjurkan menyesuaikan metode belajar dengan gaya belajar masing-masing, seperti menggunakan gambar dan mind map untuk tipe visual atau praktik langsung untuk tipe kinestetik.

Editor : Aditya Novrian
#cara #lupa #belajar #siswa #mengatasi