Afrizal Hita sudah dua tahun nyemplung di dunia olahraga tradisional.
Selama itu juga ia sudah menorehkan sejumlah prestasi.
Ia merupakan atlet cabang olahraga (cabor) tradisional gobak sodor dan lompat katak.
Kata seru tampaknya mewakili alasan Hita mengapa tertarik dengan olahraga tradisional.
Sebab, ia tak pernah merasa jika dirinya berolahraga.
Aktivitasnya lebih terasa seperti bermain.
Meski awalnya dulu ia tak sengaja mencoba olahraga tersebut.
“Awalnya saya ditunjuk untuk mengikuti perlombaan olahraga tradisional,” ungkapnya.
Namun, lama-lama ia merasa nyaman.
Siswa SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu tersebut mulai mengikuti perlombaan olahraga tradisional sejak kelas 7.
Saat itu ia mengikuti perlombaan gobak sodor piala Wali Kota Batu.
Akhirnya, siswa asal Desa Giripurno itu berhasil meraih juara 2.
Namun ia tak sendirian.
Ia bertanding bersama timnya.
Prestasinya terus berlanjut.
Saat duduk di kelas 8 dirinya mencoba lomba tradisional lainnya.
Yakni lomba lompat kodok yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) 2023 lalu.
Ia berhasil melompat dengan jarak 5,5 meter dalam 3 kali lompatan.
Itu membuatnya meraih juara umum 2 di pertandingan tersebut.
Sama seperti atlet lain, Hita juga harus rajin latihan.
Terutama ketika mendekati hari perlombaan.
Hita mengatakan berlatih seminggu sekali.
“Untuk latihannya setiap hari selasa,” ujarnya.
Tentu saja lopat kodok memiliki tantangan yang berbeda dengan gobak sodor.
Ia mengatakan gobak sodor lebih menekankan untuk memahami aturan main.
Tentu saja, kekuatan fisik juga harus terus dilatih.
“Tujuannya agar bisa gesit karena kita mengandalkan kecepatan gerakan tubuh dan lari,” ungkapnya.
Hita selalu merasa senang berada di cabor tradisional.
Dia berharap kedepan akan makin banyak perlombaan cabor olahraga tradisional. (sif/ dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana