Kebiasaan tersebut ternyata cukup umum terjadi dan berkaitan dengan faktor psikologis. Suara latar membuat sebagian orang merasa lebih tenang, nyaman, dan aman dibanding tidur dalam kondisi hening total.
Secara psikologis, suara seperti kipas angin atau televisi membantu mengalihkan pikiran yang terlalu aktif pada malam hari. Saat suasana terlalu sepi, banyak orang justru lebih mudah mengalami overthinking sebelum tidur.
Baca Juga: Daycare di Batu Disorot, Pemkot Akui Pengawasan Masih Sebatas Pendataan
Bagi seseorang yang memiliki kecemasan atau anxiety, kesunyian dapat membuat pikiran terasa semakin ramai. Suara latar membantu otak fokus pada satu hal sehingga tubuh menjadi lebih rileks dan lebih mudah tertidur.
Kebiasaan tidur dengan suara tertentu juga dapat terbentuk karena faktor lingkungan sejak lama. Seseorang yang sejak kecil terbiasa tidur dengan suara televisi atau kipas angin biasanya akan mengasosiasikan suara tersebut dengan rasa aman dan nyaman.
Fenomena ini juga berkaitan dengan efek white noise. Suara monoton seperti kipas angin, hujan, atau pendingin ruangan membantu menutupi suara mendadak yang dapat mengganggu tidur, sehingga suasana terasa lebih stabil dan menenangkan bagi otak.
Sebagian orang juga menggunakan musik atau podcast sebagai teman tidur untuk mengurangi rasa sepi pada malam hari. Konten dengan suara lembut dianggap mampu menciptakan suasana yang lebih santai dan tenang sebelum tidur.
Meski demikian, penggunaan suara saat tidur tetap perlu diperhatikan. Volume yang terlalu keras justru dapat mengganggu kualitas tidur dan membuat tubuh tidak beristirahat secara optimal.
Apabila kebiasaan tersebut mulai mengganggu atau membuat seseorang tidak bisa tidur tanpa suara sama sekali, sejumlah ahli menyarankan untuk mengurangi suara latar secara perlahan dan membiasakan tubuh tidur dalam kondisi yang lebih tenang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tidur bukan hanya soal memejamkan mata, tetapi juga tentang menciptakan suasana yang terasa aman dan nyaman bagi pikiran.
Baca Juga: Daycare di Batu Disorot, Pemkot Akui Pengawasan Masih Sebatas Pendataan
Editor : Aditya Novrian