Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pengawasan Lemah, Praktik Kumpul Kebo Kian Marak, Hunian Mahasiswa Longgar, Kontrol Sosial Melemah

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 26 April 2026 | 22:33 WIB
KAWASAN EKSKLUSIF: Salah satu kos-kosan eksklusif di kawasan Soekarno-Hatta diminati para mahasiswa. DARMONO/RADAR MALANG
KAWASAN EKSKLUSIF: Salah satu kos-kosan eksklusif di kawasan Soekarno-Hatta diminati para mahasiswa. DARMONO/RADAR MALANG

 

MALANG KOTA, RADAR BATU - Praktik tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan  alias kumpul kebo (living together) di hunian mahasiswa di Kota Malang kian marak dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini memicu keresahan penghuni dan warga sekitar, sementara pengawasan dinilai belum optimal.

Kondisi tersebut dirasakan Angger (bukan nama sebenarnya), mahasiswa yang tinggal di kawasan Vila Bukit Tidar. Ia menyebut lingkungan tempat tinggalnya mulai tidak kondusif akibat perilaku salah satu penghuni.

Rekan tersebut kerap membawa tamu perempuan dengan alasan mengerjakan tugas. Namun, kunjungan itu berujung pada kebiasaan menginap dalam waktu lama. Bahkan, perempuan yang dibawa disebut berganti-ganti.

“Awalnya hanya mampir, tapi lama-lama jadi sering menginap,” ujarnya. Penghuni lain mengaku sudah beberapa kali memberikan teguran. Namun, perilaku itu tetap berulang. Mereka khawatir akan dampak sosial, termasuk risiko sanksi dari warga jika terjadi penggerebekan.

Situasi memuncak saat libur semester. Ketika sebagian penghuni pulang kampung, kontrakan justru digunakan secara bebas. “Privasi bersama jadi dilanggar. Ini memicu gesekan antarpenghuni,” katanya.

Fenomena ini sebenarnya telah masuk perhatian aparat. Namun, respons yang diberikan masih terbatas. Kepala Satpol PP Kota Malang Heru Mulyono enggan membeberkan data maupun lokasi penertiban. “Informasi itu termasuk yang dikecualikan,” ujarnya singkat.

Minimnya keterbukaan dinilai menyulitkan publik untuk menilai efektivitas penanganan. Di sisi lain, faktor sosial dinilai menjadi akar persoalan. Akademisi Universitas BINUS Malang Romanus Piter menilai Malang sebagai kota pendidikan memiliki tingkat anonimitas tinggi. Mahasiswa perantau hidup jauh dari pengawasan keluarga.

“Sosiologis kota ini memberi ruang kebebasan yang sering disalahartikan,” jelasnya. Ia juga menyoroti melemahnya kontrol sosial di tingkat lingkungan. Banyak hunian sewa tidak lagi menerapkan aturan ketat, seperti pembatasan jam kunjung atau pemisahan gender. Kondisi ini membuka celah bagi praktik tinggal bersama tanpa ikatan.

“Kontrol yang cair membuat peluang pelanggaran semakin besar,” tambahnya. Romanus menilai razia semata tidak cukup. Pendekatan represif tanpa edukasi hanya menyentuh permukaan masalah.

Ia menekankan pentingnya penguatan karakter dan kesadaran individu. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang dan menggerus citra Malang sebagai kota pelajar. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#mahasiswa #pengawasan