Berita Terbaru Ekonomi & Bisnis Kesehatan Kriminal Lifestyle Malang Raya Nusantara Olahraga Opini Pemilu 2024 Pendidikan Peristiwa Sosok Teknologi Wisata & Kuliner

Jelang Lebaran, Peminat Kerajinan Rotan Masih Lesu

Fajar Andre Setiawan • 2026-03-15 11:47:01
PENJUALAN LESU: Salah seorang pengerajin rotan di Balearjosari menunjukkan karyanya beberapa waktu lalu. (WANASA RAHMAT AKBAR ADZANI/FREELANCE RADAR MALANG)
PENJUALAN LESU: Salah seorang pengerajin rotan di Balearjosari menunjukkan karyanya beberapa waktu lalu. (WANASA RAHMAT AKBAR ADZANI/FREELANCE RADAR MALANG)

 

MALANG KOTA - Persiapan Idulfitri yang biasanya membawa berkah melimpah, tahun ini terasa hambar bagi para pengrajin rotan di kawasan Balearjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Jika tahun-tahun sebelumnya pesanan hampers sudah ludes sejak awal Ramadan, pemandangan berbeda justru tersaji di sepanjang koridor jalan utama tersebut. Tumpukan keranjang dan wadah hantaran masih menggunung di lapak pedagang, seolah tak tersentuh oleh pembeli.

Firman, salah satu pengrajin senior yang telah berkecimpung membuat rotan sejak 2003 lalu mengaku, denyut bisnisnya kini sedang tersengal-sengal. Meski ia memproduksi aneka wadah hampers untuk Ramadan, daya beli masyarakat seolah jalan di tempat. Kondisi itu seolah menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha yang menggantungkan nasib pada momentum hari raya.

"Biasanya kalau sudah masuk H-7 begini, saya sudah tidak pegang stok karena habis dikirim ke mana-mana. Sekarang lihat sendiri, barang masih menumpuk di depan toko,” ujarnya. Kondisi saat ini bahkan menurutnya lebih parah dibanding pandemi COVID-19 lalu. Saat itu,  pesanan hampers lokal justru melonjak tajam dibanding kondisi normal saat ini.

Lesunya penjualan itu tak lepas dari pergeseran pola konsumsi masyarakat dengan platform digital. Pelanggan kini lebih memilih berburu wadah hampers melalui gawai dengan iming-iming harga yang seringkali tak masuk akal bagi pengrajin konvensional. Padahal, dari segi ketahanan dan kehalusan anyaman, produk tangan asli Balearjosari menurutnya jauh lebih unggul dibanding produk masal pabrikan.

Senada dengannya, penjual lain Yasin menyebut penurunan tersebut merata di seluruh lini produk. Tak hanya keranjang mungil untuk kue kering, furnitur besar seperti kursi santai dan vas dekorasi juga sepi peminat. Fenomena itu disinyalir karena ketatnya persaingan harga dengan toko daring yang tidak memiliki beban biaya operasional lapak fisik.

"Semua lini turun drastis, mulai dari aksesori kecil sampai kursi dan vas bunga semuanya sepi,” keluhnya. Kondisi kian pelik lantaran harga bahan baku rotan dan besi terus merangkak naik. Sementara itu, mereka tak berani menaikkan harga jual agar tak ditinggal pembeli.

Para pengrajin kini menaruh harapan besar pada campur tangan Pemerintah Kota Malang untuk memberikan pendampingan nyata di ranah digital. Mereka tidak ingin kerajinan rotan yang menjadi ikon Balearjosari tersebut hanya tinggal kenangan visual bagi para pengendara yang melintas Sosialisasi pemasaran daring menjadi kunci agar kearifan lokal tidak gulung tikar tergerus zaman. (Wanasa Rahmat Akbar Adzani/ori)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#pengrajin