Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Ahli Gizi UB Larang Makanan Bakar dalam MBG Ibu Hamil dan Balita, Berisiko Picu Zat Berbahaya

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 10 Juni 2026 | 15:00 WIB
INFOGRAFIS: Pakar peringatkan porsi ideal MBG untuk ibu hamil dan balita. Ahli Gizi UB pantang makanan bakar demi hindari zat pemicu kanker janin. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dituntut jadikan distribusi sebagai ajang edukasi gizi keluarga.
INFOGRAFIS: Pakar peringatkan porsi ideal MBG untuk ibu hamil dan balita. Ahli Gizi UB pantang makanan bakar demi hindari zat pemicu kanker janin. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dituntut jadikan distribusi sebagai ajang edukasi gizi keluarga.

BATU - Metode pengolahan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui mendapat sorotan.

Akademisi mengingatkan bahwa makanan yang diolah dengan cara dibakar sebaiknya tidak masuk dalam menu karena berpotensi menghasilkan senyawa berbahaya bagi kesehatan.

Dosen Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (UB) Eva Putri Arfiani menjelaskan, proses pembakaran makanan dapat memicu terbentuknya senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH).

Senyawa tersebut diketahui memiliki risiko terhadap kesehatan, termasuk bagi perkembangan janin.

Karena itu, menu makanan yang dibakar tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita.

Baca Juga: Resmi Jadi Tersangka Kasus Penerimaan Suap dan Gratifikasi, Bupati Muara Enim dan 3 Rekannya Ditahan KPK

“Kalaupun terpaksa menggunakan metode pembakaran, bagian yang gosong harus dibuang seluruhnya,” ujarnya.

Sebagai alternatif, Eva mendorong dapur MBG memprioritaskan menu yang lebih aman sekaligus efisien untuk produksi massal.

Beberapa contoh yang direkomendasikan antara lain rolade dan nugget ayam sayur.

Selain memiliki kandungan energi yang cukup tinggi, jenis makanan tersebut juga dapat diproduksi dalam jumlah besar dan disimpan dalam kondisi beku (frozen) sehingga lebih mudah dikelola oleh dapur penyedia makanan.

“Menu seperti rolade atau nugget ayam sayur lebih praktis karena bisa disiapkan lebih awal dan disimpan dengan baik,” katanya.

Baca Juga: Menggigil! Mengenal Fenomena Bediding di Balik Cuaca Dingin Ekstrem Malang Raya

Menurut Eva, kualitas menu MBG tidak hanya ditentukan oleh sumber protein dan karbohidrat. Kehadiran sayur dan buah juga penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serta antioksidan yang berfungsi menjaga kesehatan tubuh.

“Porsi sayur dan buah tetap harus ada sebagai penyeimbang karena mengandung antioksidan yang dibutuhkan tubuh,” jelasnya.

Meski demikian, Eva menegaskan bahwa program MBG tidak dapat menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan malnutrisi maupun stunting.

Sebab, bantuan makanan hanya diberikan satu kali dalam sehari.

Baca Juga: SPMB Jatim 2026 Buka Jalur Prestasi Akademik, Simak Bobot Penilaian dan Jadwalnya

Karena itu, distribusi MBG seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi keluarga penerima manfaat agar menerapkan pola makan sehat secara mandiri di rumah.

“Intervensi MBG tidak sampai 100 persen karena hanya diberikan sekali sehari. Maka momentum pembagian makanan harus dimanfaatkan untuk edukasi gizi kepada keluarga,” tegasnya.

Baca Juga: Hanya Tampung 53% Lulusan SMP, Sekolah Swasta di Kota Batu Siap Beri Keringanan Biaya

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Batu dr Yuni Astuti menyebut pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program tersebut.

Menurut dia, pendekatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui MBG diharapkan mampu mempercepat perbaikan status gizi balita sekaligus mencegah munculnya kasus gizi buruk baru.

“Kami terus melakukan evaluasi untuk pemantauan penerima manfaat,” tandasnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Ibu menyusui #balita #ibu hamil #Mbg #gizi