Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pakar Gizi UB: Porsi MBG Ibu Hamil Tak Boleh Disamaratakan, Kebutuhan Kalori Tiap Trimester Berbeda

Rori Dinanda Bestari • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:26 WIB
INFOGRAFIS: Pakar peringatkan porsi ideal MBG untuk ibu hamil dan balita. Ahli Gizi UB pantang makanan bakar demi hindari zat pemicu kanker janin. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dituntut jadikan distribusi sebagai ajang edukasi gizi keluarga.
INFOGRAFIS: Pakar peringatkan porsi ideal MBG untuk ibu hamil dan balita. Ahli Gizi UB pantang makanan bakar demi hindari zat pemicu kanker janin. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dituntut jadikan distribusi sebagai ajang edukasi gizi keluarga.

BATU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di Kota Batu dinilai tidak akan optimal apabila porsi makanan diberikan secara seragam.

Akademisi mengingatkan bahwa setiap kelompok memiliki kebutuhan energi yang berbeda sehingga memerlukan standar takaran yang ketat.

Dosen Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (UB) Eva Putri Arfiani menjelaskan, kebutuhan kalori ibu hamil berubah seiring perkembangan usia kehamilan.

Pada trimester pertama, tambahan energi yang dibutuhkan berada di kisaran 180 kilokalori (kkal). Angka itu kemudian meningkat hingga sekitar 330 kkal saat memasuki trimester kedua dan ketiga.

Sementara itu, kebutuhan energi ibu menyusui juga tidak sama. Pada enam bulan pertama masa menyusui, tambahan energi yang dibutuhkan mencapai 330 kkal. Kemudian meningkat menjadi sekitar 400 kkal pada enam bulan berikutnya.

“Karena itu porsi mereka tidak bisa disamaratakan. Kalau dalam satu kali sajian tidak memenuhi kebutuhan tersebut, maka nilai gizi yang diterima belum optimal,” ujarnya.

Menurut Eva, perbedaan kebutuhan gizi tersebut tidak harus membuat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memproduksi menu yang berbeda setiap hari. Solusinya dapat dilakukan dengan pengaturan volume atau ukuran wadah makanan.

Dengan cara itu, menu utama tetap sama, tetapi jumlah yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima manfaat. Misalnya, balita mendapatkan porsi lebih kecil dibanding ibu hamil atau ibu menyusui.

“Kontrol volume menjadi salah satu cara paling efektif dan efisien agar kebutuhan gizi terpenuhi tanpa membebani operasional dapur,” jelasnya.

Selain pengaturan porsi, Eva juga menekankan pentingnya skrining kesehatan sebelum distribusi makanan dilakukan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi khusus yang membutuhkan penyesuaian menu.

Salah satunya adalah ibu hamil dengan risiko preeklamsia. Kelompok ini memerlukan pembatasan asupan natrium sehingga komposisi bumbu harus diatur secara khusus.

“Bisa dilakukan dengan memberikan bumbu atau garam secara terpisah sehingga lebih mudah dikontrol sesuai kondisi penerima,” katanya.

Eva menilai ketepatan porsi menjadi faktor penting dalam upaya menyelamatkan fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode yang selama ini menjadi fokus utama dalam pencegahan stunting.

Karena itu, standarisasi gizi di seluruh dapur MBG dinilai tidak bisa ditawar.

Di sisi lain, Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Yuni Astuti menyatakan pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG bagi kelompok 3B.

Menurut dia, pendekatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui program tersebut diharapkan mampu membantu memperbaiki status gizi balita sekaligus mencegah masalah gizi pada ibu hamil dan ibu menyusui.

“Kami terus melakukan evaluasi untuk pemantauan penerima manfaat,” ujarnya. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#Ibu menyusui #balita #ibu hamil #Mbg #gizi