BATU, RADAR BATU - Anomali iklim El Nino yang diproyeksikan menguat pada pertengahan tahun ini memicu alarm bahaya ekologis di kawasan pegunungan Kota Batu. Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini juga menjadi fokus sentral mitigasi kedaruratan. Pasalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memproyeksikan cuaca ekstrem itu bakal membayangi Kota Batu beberapa bulan ke depan.
Untuk diketahui, peningkatan suhu laut di Samudra Pasifik dinilai berpotensi memicu El Nino kuat pada 2026-2027. Fenomena ini disebut-sebut dapat mendorong adanya rekor suhu terpanas. Kekeringan panjang, kebakaran hutan, hingga krisis air bersih menjadi ancaman yang sering muncul ketika El Nino terjadi.
Kendati dibayangi ancaman krisis vegetasi yang parah, ketersediaan air bersih bagi konsumsi warga diklaim steril dari risiko kekeringan. Jejak kelam bencana iklim menjadi landasan utama kewaspadaan tersebut. Rangkaian kekeringan panjang yang berujung pada karhutla masif di periode 2019-2023. Itu jadi preseden buruk yang tidak boleh terulang.
BACA JUGA: “Random Sadness” pada Siswa, Ini Upaya untuk Menghentikannya
“Insiden 2019 adalah yang paling parah, sekitar 400 hektare lahan ludes terbakar,” ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu, Gatot Noegroho. Kerusakan ekosistem hulu akibat amukan api kala itu bahkan terbukti memicu bencana susulan berupa banjir bandang pada 2021.
Siklus destruktif tersebut kembali menyergap pada 2023. Api menghanguskan hingga 30 hektare luasan hutan dan merembet ke wilayah kabupaten tetangga. Skala kebakaran yang melanda medan curam kala itu memaksa BPBD berkoordinasi darurat dengan pusat guna mengerahkan helikopter pengebom air (water bombing).
BACA JUGA: Wisata Bonpi Pujon, Tempat Rekreasi Pegunungan yang Ramai Dikunjungi Keluarga saat Akhir Pekan
Menghadapi siklus 2026, otoritas kebencanaan telah mengambil langkah antisipatif dengan memetakan zona merah pegunungan. Gatot memproyeksikan skala ancaman tahun ini akan menyerupai luasan tahun 2019. Namun, dengan intensitas kekeringan yang lebih ekstrem ketimbang 2023.
Menariknya, di tengah ancaman karhutla, pasokan air domestik justru dinilai aman. Gatot menegaskan fokus penanganan sepenuhnya diarahkan pada mitigasi api. “Pernah ada kekeringan lahan pertanian di Desa Tlekung lima tahun lalu, tapi tidak parah. Untuk pasokan air konsumsi masyarakat, Kota Batu masih sangat aman,” jelasnya.
BACA JUGA: Fenomena “Morning Exhausted” pada Pelajar, Baru Bangun tapi Sudah Lelah
Validitas ancaman ini selaras dengan tinjauan saintifik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Ahmad Luthfi menyebut indikator El Nino saat ini masih moderat. Namun, kemunculan titik api diproyeksikan melonjak drastis pada Agustus nanti akibat minimnya tutupan awan.
Sepanjang Juni hingga September, kawasan Malang Raya juga akan didera anomali iklim bediding. Suhu udara akan terasa menusuk pada pagi hari, tapi berubah sangat terik dan menyengat di siang hari. Puncak eskalasi panas diprediksi jatuh pada Oktober.
BACA JUGA: Menyusuri Coban Tengah, Air Terjun di Lereng Gunung Banyak yang Masih Teduh dan Tenang
Namun, lonjakan suhu itu diprediksi tidak akan sampai ekstrim hingga naik 4-5 derajat celsius. Menurutnya, karakteristik cuaca di Kota Batu tergolong sangat kompleks karena dikelilingi banyak pegunungan.
Luthfi memperingatkan kompleksitas topografi Kota Batu yang rentan. “Kita harus berkaca dari kasus Gunung Arjuno pada 2023. Kawasan hutan yang selama ini dikenal adem dan basah pun nyatanya bisa terbakar hebat jika kita lengah,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan